Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on google
Share on telegram

Siapa Samurai Miyamoto Musashi? Ini Biografi hingga Quotes Terkenalnya

miyamoto musashi

Kamu yang gemar dengan budaya Jepang tentu tak asing dengan istilah samurai. Di antara berbagai samurai Jepang yang legendaris, terdapat nama Miyamoto Musashi.

Seperti apa sosok Miyamoto Musashi dan buku Lima Cincin (The Book of Five Rings) yang terkenal? Berikut biografinya.

Biografi Miyamoto Musashi

Miyamoto Musashi, atau biasa dipanggil Musashi, adalah seorang samurai dan ronin. Ia lahir di abad pertengahan, yakni diperkirakan sekitar tahun 1584. Ia meninggal pada 1645.

Nama aslinya yaitu Shinmen Takezo. Takezo adalah bentuk pelafalan lain dari Musashi. Sementara itu nama lengkap Musashi adalah Shinmen Musashi No Kami Fujiwara No Genshin.

Pada masa kecilnya, Musashi dipanggil Bennosuke. Miyamoto adalah sebuah nama kuno di kawasan barat daya Tokyo.

Setelah menjadi yatim piatu pada usia sekitar 7 tahun atau pada 1590, Musashi ikut paman dari pihak ibunya. Sejak kecil ia memiliki ketertarikan bermain Kendo. Tidak diketahui dengan jelas apakah ketertarikan Kendo tersebut akibat dipengaruhi pamannya atau memang keinginan Musashi sendiri.

Pertarungan pertama Musashi adalah dengan Arima Kihei, seorang samurai perguruan Shinto Ryu. Arima Kihei dikenal terampil dengan pedang dan tombak.

Pada usia 13 tahun, Musashi mampu mengalahkannya dengan cara melempar ke tanah dan memukulnya dengan tongkat. Pada usia 16 tahun, Musashi mengalahkan musuh keduanya.

Ia kabur dari rumah dan terlibat berbagai pertarungan. Hidupnya dipenuhi pertarungan, sampai usianya mencapai 50 tahun.

Ia mengembara di tanah Jepang dan menjadi legenda. Musashi mampu mengalahkan samurai-samurai dari berbagai keluarga ternama, misalnya keluarga Yoshioka di Kyoto, Muso Gonosuke di Edo, bangsawan Matsudaira di Izumo, dan Sasaki Kojiro di Bunzen.

Salah satu pertempuran yang paling terkenal adalah melawan sebuah perguruan bela diri di Ichijoji. Musashi bertarung melawan 50 samurai dan dimenangkannya dengan teknik dua pedang. Sisa-sisa pertempuran di Ichijoji lalu dijadikan monumen

Musashi diyakini terlibat dalam Pertempuran Sekigahara pada tahun 1600. Saat itu pasukan Tokugawa Ieyasu dan pasukan Toyotomi Hideyori berseteru.

Ribuan orang tewas dalam pertempuran tersebut. Musashi diyakini memihak pasukan Toyotomi Hideyori, anak dari Toyotomi Hideyoshi.

Buku Lima Cincin (The Book of Five Rings)

Setelah pertarungan terakhirnya dengan Sasaki Kojiro, Musashi menetapkan diri tidak akan bertempur lagi. Ia pergi untuk menyendiri dan mencari pemahaman Kendo.

Ia juga sempat mengajar dan melukis di Istana Kumamoto. Namun kemudian ia kembali menyendiri di Gua Reigendo.

Di sini ia menulis buku Go Rin No Sho, yakni Buku Lima Cincin atau Lima Unsur. Buku ini dianggap sebagai salah satu buku terpenting dalam strategi perang dan teknik duel.

Bagi para peneliti asal barat, buku Go Rin No Sho dianggap sebagai rujukan untuk meneliti pola psikologis dan cara berpikir masyarakat Jepang.

Musashi kemudian dijuluki Kensei, yang artinya Dewa Pedang. Sebutan itu dilekatkan kepada Musashi karena keahliannya dalam seni pedang.

Musashi kemudian tutup usia di Kyushu pada 1645. Ia diketahui tidak pernah menikah. Walaupun begitu, ia memiliki seorang anak angkat yang masih bersepupu dengannya, Iori Miyamoto.

Quotes Miyamoto Musashi

Berikut ini beberapa quotes paling terkenal dari sang Dewa Pedang.

1. Accept everything just the way it is.

2. Do not seek pleasure for its own sake.

3. Do not, under any circumstances, depend on a partial feeling.

4. Think lightly of yourself and deeply of the world.

5. Be detached from desire your whole life long.

6. Do not regret what you have done.

7. Never be jealous.

8. Never let yourself be saddened by a separation.

9. Resentment and complaint are appropriate neither for oneself nor others.

10. Do not let yourself be guided by the feeling of lust or love.

11. In all things have no preferences.

12. Be indifferent to where you live.

13. Do not pursue the taste of good food.

14. Do not hold on to possessions you no longer need.

15. Do not act following customary beliefs.

16. Do not collect weapons or practice with weapons beyond what is useful.

17. Do not fear death.

18. Do not seek to possess either goods or fiefs for your old age.

19. Respect Buddha and the gods without counting on their help.

20. You may abandon your own body but you must preserve your honour.

21. Never stray from the Way.

kelas bahasa asing Lister
kelas bahasa asing Lister