Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

9 Orang Kulit Hitam Amerika Berpengaruh di Luar Negeri

9-orang-kulit-hitam-amerika-berpengaruh

English for Cultural Training – Untuk memperingati Black History Month atau Bulan Sejarah Hitam, saatnya menyoroti orang kulit hitam Amerika berpengaruh. Pengalaman dalam belajar, mengajar, dan tinggal di luar negeri membentuk perspektif, kehidupan, dan karier mereka. Secara historis, banyak orang kulit hitam Amerika berpengaruh yang memilih hijrah ke luar negeri untuk melarikan diri dari rasisme. Siapa saja? 

Frederick Douglass (1818-1895) di Irlandia dan Inggris

Douglass adalah seorang aktivis terkemuka, reformis sosial, penulis, duta besar, dan pemimpin nasional gerakan abolisionis. Setelah melarikan diri ke Irlandia pada tahun 1845, dalam sebuah surat yang bersejarah kepada William Lloyd Garrison, Douglass merefleksikan kebebasan dan kesetaraan yang ia temukan di Emerald Isle, “…the entire absence of everything that looked like prejudice against me, on account of the color of my skin—contrasted so strongly with my long and bitter experience in the United States, that I look with wonder and amazement on the transition.

James Baldwin (1924-1987) di Prancis dan Turki

Baldwin adalah seorang novelis, penulis naskah drama, aktivis, dan penulis esai yang terkenal dengan eksplorasi pengalaman Hitam di Amerika dalam karyanya. Esainya, Equal in Paris, menceritakan ketika ia menjadi ekspatriat di Paris pada akhir 1950-an. Ingin diterima masyarakat, ia malah mengalami penghinaan. Cerita pendeknya This Morning, This Evening, So Soon menceritakan kegelisahan tersebut.

Audre Lorde (1934-1992) di Meksiko dan Jerman

Lorde adalah tokoh/orang kulit hitam Amerika berpengaruh di tahun 1934-1992. Ia adalah seorang penulis, feminis, dan aktivis hak-hak sipil luar biasa yang menyuarakan isu-isu ras, gender, dan seksualitas. Zami: A New Spelling of My Name, yang dia sebut autobiografinya menggambarkan peristiwa pada 1954 di Universitas Nasional di Meksiko. Dia pergi untuk melarikan diri dari McCarthyisme yang rasis dan menemukan gerakan dan budaya feminis dan lesbian.

Maya Angelou (1928-2014) di Ghana

Angelou adalah seorang penyair, penyanyi, penulis memoar, dan aktivis hak-hak sipil yang terkenal. Dia menelusuri identitasnya selama bertahun-tahun di Ghana dalam auto-biomythography-nya, All God’s Children Need Traveling Shoes. Ia menulis, “If the heart of Africa remained elusive, my search for it had brought me closer to understanding myself and other human beings.”

James Meredith (1933) di Nigeria

Ia adalah aktivis hak-hak sipil, penulis, dan veteran Angkatan Udara yang terkenal sebagai orang Afrika-Amerika pertama yang mengintegrasikan Universitas Mississippi. Setelah lulus, ia mendaftar di Universitas Ibadan di Nigeria, di mana ia belajar ilmu politik dan melanjutkan perjuangannya melawan supremasi kulit putih.

Marian Wright Edelman (1939-) di Prancis, Swiss, dan Uni Soviet 

Edelman adalah orang kulit hitam Amerika berpengaruh selanjutnya. Ia adalah aktivis dan advokat hak-hak anak dan pendiri dan President of the Children’s Defense Fund. Prestasi akademiknya patut dicontoh. Keinginannya untuk memiliki perspektif internasional membuatnya belajar di luar negeri ke Universitas Sorbonne di Paris, Prancis, Universitas Jenewa di Swiss, dan Uni Soviet sebagai Lisle Fellow. 

Dia sempat merencanakan karier di dinas luar negeri, tetapi memutuskan untuk tidak melakukannya setelah Gerakan Hak Sipil terjadi di AS. Sekembalinya ke negara bagian, dia menjabat sebagai tokoh terkemuka dalam Gerakan Hak Sipil, menjadi John Hay Whitney Fellow, dan memperoleh gelar doktor juris.

Alice Walker (1944-) di Kenya dan Uganda

Walker juga adalah orang kulit hitam Amerika berpengaruh. Alice merupakan seorang novelis, feminis, penulis cerita pendek, dan penyair yang terkenal dengan novel pemenang Hadiah Pulitzer, The Color Purple. Walker memenangkan beasiswa saat di Sarah Lawrence College untuk belajar di luar negeri di Uganda, dan selama di sana ia juga mengunjungi Kenya.

Selama berada di sana, ia menyanggah mitos populer Amerika tentang Afrika, yang ia sampaikan dalam karya-karyanya seperti Everyday Use. Dia juga menjadi pemuka gerakan feminis kulit hitam. Dalam cerita pendeknya, Coming Apart, dia menciptakan istilah womanist untuk menghubungkan feminisme lebih dalam dengan masalah titik-temu yang dihadapi wanita kulit hitam.

Henry Louis Gates (1950-) di Tanzania dan Inggris

Gates adalah kritikus sastra terkenal, guru, sejarawan, dan pembuat film pemenang Emmy Award yang paling terkenal dengan serial terobosannya Finding Your Roots di PBS. Dia mengambil cuti dari Yale untuk mengunjungi Afrika, bekerja sebagai ahli anestesi di sebuah rumah sakit di Tanzania dan kemudian melakukan perjalanan melalui negara-negara Afrika lainnya.

Pada 1973, Gates menjadi orang Afrika-Amerika pertama yang menerima Beasiswa Andrew W. Mellon Foundation untuk belajar di Clare College, University of Cambridge. Di sana ia memperoleh gelar Ph.D. dalam bahasa Inggris dan menjadi asisten profesor di Yale dengan penunjukan bersama di departemen Studi Bahasa Inggris dan Afro-Amerika.

Ta-nehisi coates (1975- ) di Prancis

Penulis, jurnalis, dan penulis buku komik, Coates membuat NYT Best Seller, Between the World and Me, yang ia tulis sebagai surat kepada putranya tentang kenyataan menjadi orang kulit hitam di Amerika Serikat. 

Coates membahas pembelajaran bahasa dan budaya baru selama berada di Prancis di Atlantik dan berbicara tentang waktunya di Paris sebagai bagian dari Washington Ideas Week:

I fell in love in the subway station. It wasn’t the Louvre, it wasn’t like I had a baguette or the wine, but I was in the subway station, man. The people were so brusque, not mean, but It felt so real to me. And it really reminded me of New York…I instantly felt at home. This sounds so cliché, but culturally I immediately fell in love.”

Program Lister Untuk Memahami Budaya Asing 

Bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang menjadi kebutuhan pokok sehari-hari di masa kini. Pastikan kamu sudah mempersiapkan diri dengan mengikuti English for Cultural Training di Lister. 

Di sini kamu akan belajar bersama tutor-tutor ahli dan berpengalaman. Cari tahu kisah dan pengalaman mereka di sini.
Kamu dapat memilih jumlah kelas sendiri, bahkan tutor dan kelas pengganti. Selain itu, dapatkan Garansi Skor untuk kelas tertentu. Gunakan kode promo BLOGLISTER10 untuk mendapatkan diskon 10 persen, minimal pembelian kelas seharga satu jutaan (maksimal diskon Rp500 ribu). Daftar sekarang!