Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Ambis adalah: Sering Dicap Berlebihan, Benarkah Begitu?

Program ListerAmbis adalah salah satu istilah dalam bahasa gaul yang sering kita dengar. Ungkapan ini sering disematkan pada mahasiswa, karyawan, atau pebisnis yang sangat rajin dan bertekad kuat. Walaupun tujuannya positif, orang yang dicap ambis sering diberi stigma buruk. Mengapa demikian?

Ambis adalah

Ambis adalah singkatan dari kata ambisius. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ambisius memiliki makna berkeinginan keras mencapai sesuatu (harapan, cita-cita); penuh ambisi.

Ambisi itu sendiri berarti keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu.

Kata ambis sering didengar di media sosial serta percakapan sehari-hari. Contoh: orang yang sering dicap ambisius adalah mahasiswa yang sangat rajin, mengerjakan tugas sejak jauh-jauh hari, sering bertanya, rajin mencatat, dan ingin selalu mendapatkan nilai terbaik.

Baca juga: Gaya Belajar yang Efektif Menurut MBTI, Kamu yang Mana?

Benarkah Ambis Hal yang Buruk?

Jika diperhatikan, orang yang dicap ambis terkesan positif karena bekerja keras untuk mencapai tujuan semaksimal mungkin. Namun mereka juga dapat dicap berlebihan.

Tak hanya itu, orang yang ambis sering menjadi cemoohan oleh orang yang kurang ambisius. Benarkah sikap ambisius adalah hal yang buruk?

Menurut Sarah Boyd, ambisi berhubungan dengan pertumbuhan dan kemajuan, yang pada akhirnya menunjang harga diri dan kesejahteraan. Orang yang berambisi terbukti memiliki kualitas hidup yang lebih baik dalam hal pendapatan, karier, dan lain-lain.

Sementara itu Harvard Business Review menyebutkan ambisi adalah sesuatu yang alami dan sehat. Ambisi menunjukkan hasrat menampilkan yang terbaik, terus tumbuh, meraih hasil dari usaha, dan menjadi bagian dari identitas.

Ambisi melahirkan pemimpin-pemimpin terbaik. Ambisi dapat menjadi tujuan yang hendak diraih dalam hidup. Kurangnya ambisi dapat membuat seseorang menjadi malas dan tidak termotivasi. Hasil kerjanya menjadi biasa-biasa saja, cepat bosan, dan merasa sia-sia.

Dari sini dapat kamu simpulkan, apakah orang yang ambis selalu buruk?

Hindari Ambisi yang Berlebihan

Walaupun terbukti positif, ambisi berlebihan juga dapat berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain. Saat tujuan tidak tercapai, orang tersebut dapat merasa gagal dalam hidup.

Ia juga akan terus bekerja keras meraih tujuannya tanpa memedulikan istirahat. Ia menjadi rentan terhadap kritik. Untuk menghindari ambisi berlebihan tersebut, tanyakan hal-hal berikut kepada diri sendiri.

  • Apakah ambisi ini hanya untuk memenuhi egoku?
  • Tanpa ambisi ini, apakah aku tidak percaya dengan diri sendiri?
  • Apakah upaya meraih ambisi mulai memengaruhi kesehatanku?
  • Apakah upaya meraih ambisi membuatku jauh dengan orang lain?

Sudah Tahu Mau Belajar Bahasa Apa? Temukan di Program Lister

Sudah tahu bahasa apa yang ingin kamu pelajari? Kamu akan menemukan kelas yang tepat sesuai kebutuhanmu di Program Lister.

Cari tahu pengalaman seru sesama student di Lister Group Community di sini.

Kamu dapat memilih jumlah kelas sendiri, bahkan tutor dan kelas pengganti. Selain itu, dapatkan Garansi Skor untuk kelas tertentu.

Gunakan kode promo BLOGLISTER10 untuk mendapatkan diskon 10 persen, minimal pembelian kelas seharga satu jutaan (maksimal diskon Rp500 ribu). Daftar sekarang!