Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on google
Share on telegram

Tertarik Kuliah ke New Zealand? Simak Dulu Cerita Agung Harahap Kuliah di The University of Auckland

Kuliah ke New Zealand

Dengan tagline #learnwiththeexperts, Lister sangat cocok dijadikan teman belajar siapa saja yang terkendala bahasa asing nih, di sana banyak tutor profesional yang siap membantu mewujudkan impian kamu, salah satunya seperti kak Agung: kuliah ke New Zealand dengan beasiswa. Wow!

Siapa yang tidak tahu negara dengan julukan negeri Kiwi ini? Dikenal sebagai rumah bagi banyak universitas unggul yang sukses mendapatkan pengakuan global. Tercatat 8 universitas yang termasuk dalam daftar 500 universitas terbaik dunia berdasarkan Pemeringkatan Universitas Dunia QS tahun 2020. Selain dari kualitas pendidikan yang unggul, peluang wisata ke seantero negeri tentu menjadi daya tarik tersendiri. 

Begitulah kak Agung, sapaan akrab pria kelahiran Jambi ini akhirnya memutuskan melanjutkan studi ke New Zealand di jurusan Applied Linguistics di The University of Auckland. Negara yang damai tapi sangat tepat waktu itu menjadi pilihan destinasi studi lanjutannya. Karena memiliki lingkungan yang nyaman dan aman serta penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari yang memudahkan untuk dapat berinteraksi dengan warga asli.

Kak Agung menuturkan bahwa New Zealand adalah negara yang tepat untuk dipilih para pelajar internasional yang menginginkan ketenangan ketika menuntut ilmu di luar negeri. Bagaimana tidak, dengan populasi sekitar 5 juta penduduk membuat New Zealand masih bersih, damai, dan aman. Hal tersebut tentu menguntungkan bagi pelajar bukan?

Melalui beasiswa LPDP, kak Agung bisa kuliah ke New Zealand. Ia pun merasa sangat terbantu, namun tantangannya berada di finance management. Karena biaya akomodasi yang sedikit lebih mahal, terlebih kota Auckland dikenal sebagai pusat bisnis. Namun, kak Agung mencoba mensiasatinya dengan mengolah masakan sendiri.

Pada masa perkuliahan sekitar 1-2 bulan pertama, kak Agung sempat merasa insecure apakah dirinya bisa survive dengan ritme dan metode perkuliahan yang sangat berbeda dengan Indonesia itu. Namun, setelah beradaptasi, kak Agung malah sangat menikmati momen berkuliah di sana terlebih ia masuk ke kelas internasional. Ia menceritakan bahwa kegiatan perkuliahan kebanyakan dilakukan secara mandiri. Jadi, mahasiswa hanya melakukan pembelajaran tatap muka 2 jam selama seminggu di kelas. Sisanya dilakukan secara mandiri dengan ekspektasi belajar 7 jam selama seminggu. Eits, maksud dari belajar mandiri itu tidak mesti belajar sendiri tapi bisa berkelompok juga.

Selama kuliah di sana, kak Agung merasakan banyak perubahan. Salah satunya, ia menjadi lebih mandiri. Karena terbiasa mengurus sendiri mulai dari administrasi ataupun yang lainnya. Namun, ia sangat bersyukur karena fasilitas kampus yang memadai sangat membantunya, seperti akses internet yang mudah, buku atau jurnal yang tersedia luas, perpustakaan yang lengkap serta fasilitas lainnya.

Tak lupa fasilitas umum yang aman dan nyaman seperti Sky Bus dan kereta sebagai alat transportasi andalan. Jika ingin travelling,  kak Agung sangat menyarankan untuk melakukan open trip bersama teman-teman karena lebih terjangkau. Ada beberapa tempat wisata yang ia rekomendasikan untuk dikunjungi nih, seperti Sky Tower dan The Hobbit yang jaraknya tidak terlalu jauh. Oya, untuk kamu yang berniat ke New Zealand tidak perlu khawatir jika merasa homesick atau rindu dengan masakan Indonesia, karena sudah ada food court masakan khas Indonesia juga loh. 

Satu lagi, mungkin berdamai dengan perubahan ritme perkuliahan tidak jadi masalah, tapi bagaimana jika dengan kondisi cuaca? Seperti yang dialami kak Agung yang terkena cultural shock. Di musim dingin tanpa salju itulah kak Agung jadi sering sakit. Terlebih kondisi cuaca yang tidak menentu seperti 4 musim yang terjadi dalam satu hari. Wow!

“Bawalah jas hujan setiap kali pergi karena tidak tau kondisi cuaca akan seperti apa. Tidak usah membawa atau membeli payung, karena percuma. Pasti rusak terkena angin yang kencang.”

Agung Harahap

Ibarat pelangi yang datang setelah badai reda, kak Agung merasa senang karena bertemu banyak saudara baru di Auckland. Kondisi masyarakat yang sangat beragam baik dari kalangan pelajar dan pekerja internasional, memperluas relasi yang dimilikinya. Ia pun tergabung di beberapa organisasi, salah satunya PPIA atau Perhimpunan Pelajar Indonesia di Auckland. Berbagai event seperti PPIA orientation, welcoming party, peringatan the independence day, acara keagamaan, serta ASEAN Cultural Night juga pernah menjadi bagian dari kesibukan kak Agung di sana. Untuk yang muslim, bisa gabung ke HUMIA (Himpunan Muslim di Auckland) untuk berkumpul dengan saudara seiman juga. Ia pun menceritakan bahwa di Auckland sangat menjunjung tinggi toleransi dan saling menghargai. Jika diadakan party setelah ujian/exam, kak Agung pun menyempatkan datang meski untuk sosialisasi saja.

Menurutnya, persaingan untuk bisa diterima kuliah di New Zealand tidak sesulit untuk mendapatkan beasiswanya, LPDP. Kak Agung sangat menyarankan jika ingin lolos beasiswanya, minimal persiapan itu sekitar 3-6 bulan. Terutama kemampuan berbahasa Inggris dan IELTS yang sudah ditentukan sesuai standar. Hal tersebut yang perlu menjadi perhatian bagi siapa saja yang berniat kuliah ke luar negeri. Melakukan usaha persiapan itu harus sedini mungkin agar maksimal hasilnya. Salah satunya ikut program dari Lister untuk meningkatkan skor IELTS atau mentoring persiapan kuliah ke luar negeri. Wajib dicoba nih!

Sebagai salah satu mahasiswa luar negeri yang berhasil lulus tepat waktu, ia pun menuturkan  dua hal yang menjadi strateginya yaitu memiliki time management yang baik dan jangan terlarut dalam memuaskan keinginan pribadi seperti travelling.

“Kita harus bisa membuat prioritas. Setelah tugas-tugas selesai, baru jalan-jalannya akan terasa lebih puas”

Agung Harahap

Baca Juga:

Mentoring Beasiswa Luar Negeri

Panduan Test Toefl dan IELTS

Kursus IELTS Online Bersama Lister

Cerita Tutor Inspiratif Ala Lister : Erina Prastyani, Mendapat Beasiswa Kuliah ke Swedia