Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on google
Share on telegram

Mengenal Yagyu Munenori, Pendekar Pedang Jepang dan Ajaran Rahasianya

yagyu munenori

Tahukah kamu siapa Yagyu Munenori? Pendekar pedang ini hidup di masa yang sama dengan samurai Jepang, Miyamoto Musashi, yakni sekitar abad pertengahan.

Yagyu Munenori juga terkenal akan buku The Life-Giving Sword, yakni Jalan Pedang tanpa pedang itu sendiri atau pelepasan pikiran secara total.

Menarik bukan kisah hidup Munenori? Yuk, simak selengkapnya!

Biografi Yagyu Munenori

Yagyu Munenori (1571- 11 Mei 1646) adalah pendekar pedang asal Jepang. Ia menjadi pendiri cabang Edo dari Yagyū Shinkage-ryū, yang dipelajarinya dari sang ayah, Yagyū “Sekishūsai” Muneyoshi.

Ia menciptakan satu dari dua gaya pedang yang ada di bawah kekuasaan Keshogunan Tokugawa. Satu lainnya adalah Ittō-ryū.

Munenori memulai kariernya di bawah kekuasaan Tokugawa sebagai hatamoto, pengikut langsung di kediaman Tokugawa. Penghasilannya kemudian dinaikkan menjadi 10.000 koku. Hal ini kemudian membuat Munenori menjadi fudai daimyo kecil atau pemimpin bawahan yang melayani Tokugawa langsung.

Ia juga menjadi pemilik tanah di area desa leluhurnya dari Yagyū-zato. Munenori juga diberi elar Tajima no Kami.

Munenori mulai melayani Tokugawa Ieyasu sejak muda. Ia juga menjadi instruktur pedang untuk putra Ieyasu, yakni Hidetada yang kemudian menjadi Shogun kedua. Selanjutnya ia menjadi penasihat utama Shogun ketiga, Iemitsu.

Munenori turut terlibat dalam Pertempuran Sekigahara. Ia berpihak kepada Tokugawa Ieyasu dan ayahnya, Yagyu Muneyoshi.

Walaupun hidup di era yang sama, jalan hidup Munenori dengan Miyamoto Musashi sangat berbeda. Musashi memulai Jalan Pedang sebagai orang buangan dan ronin, sebelum dikenal mengalahkan musuh-musuhnya.

Sementara itu Munenori hidup sebagai orang terpandang. Walaupun begitu, ia meraih reputasi sebagai instruktur karena sebuah duel yang terkenal. Dalam Pertempuran Sekigahara, Munenori menghabisi tujuh samurai bersenjata lengkap sembari melindungi calon penerus Shogun.

Tepat sebelum sang ayah Sekishūsai tutup usia pada 1606, ia menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Yagyu Shinkage-ryu dan cucunya, Toshiyoshi, atau keponakan Munenori. Sepanjang periode musha shugyō, Toshiyoshi memimpin prajurit cabang klan Tokugawa di Provinsi Owari.

Toshiyoshi memiliki sekolah di Nagoya yang kemudian disebut sebagai Owari Yagyū-ryū. Sementara itu Munenori di Edo mendirikan Edo Yagyū-ryū.

Takenaga Hayato, pendiri Yagyū Shingan-ryū yang juga merupakan murid Munenori menerima gokui (ajaran rahasia) Yagyū Shinkage-ryū darinya.

Pada 1632 Munenori menyelesaikan karyanya, sebuah risalah pedang Shinkae-ryū berjudul Heihō kadensho. Ajarannya ini bahkan dapat diterapkan secara makro dan di dunia politik.

Putra-putra Munenori, Yagyū Jūbei Mitsuyoshi dan Yagyū Munefuyu juga menjadi pendekar pedang terkenal.

Buku The Life-Giving Swords

Terlepas dari keahliannya dalam seni bela diri dan pangkatnya dalam salah satu Shogun paling berkuasa saat itu, Munenori mendalami ajaran Buddha Zen. Ajaran ini yang menjadikan kerangka pendekatan spiritual akan seni berpedang.

Konsentrasinya pada konsep “pedang pemberi kehidupan”, yakni pendekatan spiritual dalam mempersiapkan pertarungan, alih-alih pertarungan sesungguhnya.

Disiplin diri dan pemahaman akan ajaran Zen menjadi ajaran utama yang ia pegang dalam perjalanan hidup, termasuk di antaranya adalah Jalan Pedang. Munenori mengembangkan konsep Tanpa Pedang. Artinya, pikiran harus betul-betul terbebas dari apapun, bahkan pemikiran untuk menang atau tentang pedang itu sendiri.

Secara sederhana, konsep ini muncul dari upaya pelepasan pikiran secara total atau Tanpa Pikiran.

Quotes Yagyu Munenori

Berikut ini beberapa quotes terkenal dari Yagyu Munenori.

1. Conquering evil, not the opponent, is the essence of swordsmanship.

2. It is biased to think that the art of war is just for killing people. It is not to kill people, it is to kill evil. It is a stratagem to give life to many people by killing the evil of one person.

3. See first with your mind, then with your eyes, and finally with your body.

4. Once a fight has started, if you get involved in thinking about what to do, you will be cut down by your opponent with the very next blow.

5. It is the very mind itself that leads the mind astray.

6. The continually moving mind is philosophically symbolized by the avatar Fudo Myo-o, the Wisdom King, often depicted holding a sword in one hand for cutting through ignorance, and a rope in the other for tying up passions.

7. When you strike a blow, do not let your mind dally on it, not concerning yourself with whether or not it is a telling blow; you should strike again and again, over and over, even four or five times. The thing is not to let your opponent even raise his head.

8. It is easy to kill someone with a slash of a sword. It is hard to be impossible for others to cut down.

kelas bahasa asing Lister
kelas bahasa asing Lister