Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Pierre de Coubertin: Raksasa Mungil Pelopor Olimpiade Modern

pierre de coubertin olimpiade modern

Ingin mahir berbahasa Prancis, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana? Kamu bisa mulai dengan mengikuti Kursus Bahasa Prancis.

Bagi kamu penggemar olahraga, wajib mengenal tokoh yang satu ini. Baron Pierre de Coubertin, Bapak Olimpiade modern. Berikut profil singkat tokoh tersebut.

Latar Belakang

Baron Pierre de Coubertin hanya setinggi 1,62 meter atau lebih pendek daripada rata-rata tinggi pria di Eropa. Namun ia merupakan raksasa abad 20.

Coubertin lahir di keluarga aristokrat di Paris, Prancis pada 1 Januari 1863. Ia merupakan putra keempat Charles Louis Frédy, Baron de Coubertin dan Marie-Marcelle Gigault de Crisenoy.

Setelah lulus sekolah, ia melanjutkan pendidikan Ilmu Politik dan menunjukkan ketertarikan di bidang Sejarah serta Pendidikan. Di waktu luangnya, Coubertin gemar mendayung, bermain tenis, dan bersepeda.

Ia menikahi Marie Rothan pada 1894 dan memiliki dua orang anak. Kedua anaknya merupakan difabel dan selalu menimbulkan kekhawatirannya sebagai seorang ayah.

Kunjungan ke Inggris

Pada 1883, untuk pertama kalinya Coubertin mengunjungi Inggris. Di sana ia bertemu dengan Dr Arnold, kepala sekolah rugby.

Coubertin tertarik dengan ide Arnold untuk mengintegrasikan pelajaran olahraga di sekolah. Pada 1889, ia ambil bagian dalam tur ke Kanada dan Amerika Serikat untuk menemukan metode pendidikan yang digunakan di sekolah-sekolah di negara tersebut.

Pada 1890, ia kembali ke Inggris dan berkenalan dengan Dr William Penny Brookes, penemu Much Wenlock, sebuah kompetisi olahraga yang menggunakan prinsip-prinsip Olimpiade.

Coubertin setuju dengan ide Brookes, yakni olahraga harus menjadi bagian dari pendidikan alih-alih kegiatan rekreasi belaka.

Bapak Olimpiade Modern

Pada era tersebut, dilakukan penggalian di sekitar Olympia. Saat itu ditemukan sejumlah artefak yang menunjukkan Olympia adalah tempat yang makmur.

Pierre de Coubertin mulai bermimpi akan bangkitnya Olimpiade. Pada 1892, ia mengajukan proposal ke Lembaga Olahraga Paris yang didirikannya. Namun proposal tersebut tidak disambut baik.

Ia tidak menyerah. Pada 1894, Coubertin mengundang para atlet dan tokoh olahraga dari sembilan negara untuk menghadiri konferensi olahraga.

Ia mengajukan impian yang sama. Kali ini ide tersebut diterima banyak pihak.

Kemudian ditetapkan Olimpiade modern diselenggarakan setiap empat tahun di negara yang berbeda. Dengan suara bulat, semua pihak menyatakan Olimpiade modern pertama harus diselenggarakan di Olympia, Yunani.

Sebuah kelompok yang dinamai International Olympic Committee (Komite Olimpiade Internasional) dibentuk pada 1894 untuk mengatur segala keperluan.

Dengan dukungan suara bulat, Coubertin ditunjuk menjadi presiden komite. Posisi tersebut ia pegang selama 29 tahun sebelum akhirnya pensiun.

Coubertin berperan penting dalam berbagai tradisi Olimpiade yang bertahan sampai sekarang. Seperti lima cincin, bendera Olimpiade, sumpah, dan motto.

Coubertin menulis banyak tulisan tentang olahraga dan edukasi.

Ia meninggal dunia akibat serangan jantung pada 1937. Sesuai wasiatnya, jantung Coubertin dimakamkan di Olympia.

Kutipan

Berikut sejumlah kutipan (quotes) dari Pierre de Coubertin yang terkenal.

The most important thing in the Olympic Games is not winning but taking part; the essential thing in life is not conquering but fighting well.

All sports for all people.

The Olympic Spirit is neither the property of one race nor of one age.

May joy and good fellowship reign, and in this manner, may the Olympic Torch pursue its way through ages, increasing friendly understanding among nations, for the good of a humanity always more enthusiastic, more courageous and more pure.

Swifter, higher, stronger.

The important thing in life is not victory but combat; it is not to have vanquished but to have fought well.

The important thing in life is not to triumph but to compete.

All sports must be treated on the basis of equality.

Sport must be the heritage of all men and of all social classes.