Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Aufklarung: Masa Pencerahan di Jerman Jadi Manusia Modern

bradenburg jerman

Pernah mendengar istilah Aufklärung sebelumnya? Mungkin bagi sebagian orang kata ini belum terlalu familiar. Aufklärung adalah suatu periode atau zaman yang merupakan kelanjutan dari zaman Renaissance.

Peristiwa Aufklärung merupakan masa pendewasaan yang membawa pencerahan bagi penduduk Eropa. Masa ini sangat memberi pengaruh besar pada sejarah tatanan masyarakat dunia.

Arti Aufklärung

Aufklärung adalah kata bahasa Jerman yang berpadanan dengan kata bahasa Inggris enlightenment yang berarti pencerahan atau penerangan. Aufklärung adalah suatu periode gerakan besar di Eropa pada abad ke-18 M yang memberi kedudukan luar biasa terhadap akal dan budi manusia.

Periode Aufklärung merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan aliran utama pemikiran abad ke-18 di Eropa dan Amerika. Pada masa pencerahan, pendekatan berdasarkan rasio dan ilmu pengetahuan terhadap agama, sosial, ekonomi dan politik.

Hal ini menjadi tren di masyarakat, sehingga menghasilkan pandangan yang bersifat duniawi atau sekuler.

Pandangan ini kemudian membangun opini umum tentang kemajuan dan kesempurnaan di berbagai bidang. Semua ini tidak terlepas dari pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat menjunjung tinggi prinsip universal dan kepercayaan terhadap hukum alam yang menumbuhkan rasa kepercayaan terhadap akal manusia.

Tahukah kamu, periode Aufklärung telah membawa banyak perubahan pada pola pikir masyarakat di dunia?

Banyak negara di Eropa yang sudah mengadopsi periode Aufklärung seperti Jerman, Prancis, dan Inggris. Periode Aufklärung ada 8 tahap, yakni rasionalisme, empirisme, kantinianisme, idealisme, positivisme, pragmatisme, fenomenologi, dan eksistensialisme.

Perintis Peristiwa Aufklärung di Jerman

Rasionalitas

Secara umum, rasionalisme merupakan pendekatan filosofis yang menekankan akal budi atau rasio sebagai sumber utama pengetahuan. Hampir semua ahli yang muncul pada masa ini adalah ahli matematika. Seperti Descartes, Spinoza, dan Leibniz.

Empirisme

Aliran pemikiran ini adalah lawan dari rasionalisme yang menganggap bahwa sumber pengetahuan harus dicari dalam pengalaman. Pengalaman inderawi menurut mereka merupakan saru-satunya sumber pengetahuan, bukan akal.

Aliran ini diawali oleh Francis Bacon (1561-1626) yang memberi penekanan pada pengalaman sebagai sumber pengenalan. Aliran ini kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704) dan D. Hume (1711-1776).

Jika menggunakan bahasa sederhana, aliran ini mencoba menggabungkan dua aliran yaitu rasionalisme dan empirisme. Tokoh yang terkenal dari aliran ini adalah Immanuel Kant. Menurut Kant, pengetahuan adalah kerja sama dua unsur, yaitu pengalaman dan kearifan akal budi.

Menurut aliran ini pengetahuan deduktif dapat diperoleh manusia dengan akalnya. Beberapa tokoh dalam aliran ini adalah J.G. Fitche (1762-1914), F.W.S. Schelling (1775-1854), dan F. Hegel (1770-1831).

Aliran ini hanya menyempurnakan aliran empirisme dan rasionalisme. Pada dasarnya aliran ini sama dengan empirisme dan rasionalisme. Hanya perbedaannya empirisme menerima pengalaman batin sedangkan positivisme membatasi pada pengalaman objektif saja. Pelopor utama aliran ini adalah Auguste Comte (1798-1857).

Pragmatisme

Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung kepada manfaatnya dalam kehidupan.

Salah satu tokohnya adalah William James (1842-1910). Dalam bukunya The Meaning of Truth, ia mengatakan tidak ada kebenaran mutlak, berlaku umum dan berdiri lepas dari akal.

Fenomenologi

Fenomenologi adalah sebuah studi dalam bidang filsafat yang mempelajari manusia sebagai sebuah fenomena. Ilmu ini berhubungan dengan hermeneutik, yaitu ilmu yang mempelajari arti dari fenomena ini.

Ahli fenomenologi yang pertama adalah Edmund Husserl (1859-1938). Tulisan Husserl yang menarik adalah Logical Investigation (1900-1901), Idea for a Pure Phemenology (1913), dan Corestian Meditations (1929).

Eksistensialisme

Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang memandang gejala dengan berdasar pada eksistensinya. Menurut aliran ini bagaimana manusia berada (bereksistensi) dalam dunia. Pusat perhatian aliran ini adalah situasi manusia. Istilah eksistensialisme dikemukakan oleh ahli filsafat Jerman Martin Heidegger (1889-1976).

Dampak Aufklärung

Pengaruh Aufklärung sangat dirasakan pada perkembangan teknologi dan pemikiran abad modern. Selain itu, masa Aufklärung juga menghasilkan beberapa filsafat penting yang masih diadopsi sampai saat ini dalam berbagai ilmu pengehuan.

Secara garis besar pengaruh Aufklärung bagi dunia terbagi menjadi dua, yaitu pengaruh di bidang pemikiran dan teknologi.

Di bidang pemikiran, munculnya zaman Aufklärung telah menyebabkan berkembangnya paham liberalisme dan nasionalisme. Aufklärung mengedepankan dan memaksimalkan kemampuan akal manusia, kemudian mendorong munculnya berbagai ideologi baru.

Sementara itu di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, mulai bermunculan penemuan-penemuan baru yang menjadi revolusi di Eropa dan bermanfaat sampai saat ini.

Begitulah kira-kira pembahasan tentang Aufklärung yang berpengaruh pada tatanan masyarakat di Jerman, Eropa, dan dunia kala itu. Semoga bermanfaat!

Pembahasan tentang sejarah memang selalu seru dan tidak ada habisnya, terlebih tentang Jerman dan seluk-beluknya. Seperti periode Aufklärung ini, kita bisa belajar banyak hal tentang pola pikir yang terbentuk oleh para pakar terdahulu. Tertarik mempelajari bahasa Jerman lebih serius? Kamu harus ikut kelas bahasa Jerman di Lister!

Referensi:

Sejarah XI. 2019. Direktorat Pembinaan SMA- Kementerian Pendidikan Kebudayaan.