Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Ojigi: Cara Orang Jepang Memberi Hormat dengan Membungkuk

ojigi

Budaya Jepang tidak ada habis-habisnya diulik. Agar kamu bisa semakin paham, pelajari dalam bahasa aslinya. Kamu bisa mengikuti Kursus Bahasa Jepang sebagai permulaan.

Sopan santun dan hormat-menghormati adalah inti kehidupan sosial masyarakat Jepang. Kamu tentu mengetahui budaya membungkukkan badan untuk menghormati orang lain di Jepang.

Budaya ini disebut dengan ojigi. Tahukah kamu ada beberapa jenis ojigi yang biasa digunakan sehari-hari? Yuk simak ulasannya!

Ojigi adalah

Ojigi (お辞儀) adalah tindakan merendahkan kepala dan tubuh bagian atas layaknya membungkuk. Tindakan ini dilakukan sebagai tanda salam, hormat, permintaan maaf, atau terima kasih dalam situasi sehari-hari atau kegiatan keagamaan.

Sejarah Ojigi

Budaya ojigi tidak muncul begitu saja. Dalam sejarah, ojigi sering dikaitkan dengan tradisi samurai.

Kebangkitan kelas prajurit pada periode Kamakura (1185-1333) membuat berbagai etiket prajurit diadaptasi dalam kehidupan masyarakat, termasuk membungkukkan badan. Ojigi merupakan salah satu etiket samurai.

Budaya membungkukkan badan semakin umum di kalangan masyarakat pada periode Edo (1603-1868).

Di Jepang era modern, membungkukkan badan adalah bagian dari etiket sosial yang merepresentasikan budaya, rasa hormat, dan kelas sosial.

Ojigi biasa dilakukan sebagai sapaan, dalam pertemuan bisnis, sampai penghormatan saat pemakaman.

Bahkan seseorang dianggap dewasa jika mampu membungkuk dengan benar dan elegan. Masyarakat Jepang diajari cara membungkuk sejak kecil.

Terdapat dua jenis ojigi, yakni zarei (座礼) atau membungkuk sambil berlutut dan ritsurei (立礼) atau membungkuk sambil berdiri.

Ojigi dalam Dunia Bisnis Jepang

Membungkuk dengan cara yang salah dianggap tidak tulus dan tidak menghormati, bahkan kasar. Terlebih dalam dunia bisnis.

Tidak jarang perusahaan mengadakan pelatihan khusus untuk karyawan agar dapat melakukan ojigi dengan tepat dan etika bisnis lainnya.

Secara umum, penting untuk memperhatikan postur agar tetap tegap dengan punggung lurus. Punggung yang bungkuk dan menonjolkan pinggul bisa dianggap tidak profesional.

Saat membungkuk, laki-laki biasanya menempatkan tangan di sisi tubuh. Sementara itu perempuan biasanya menangkupkan tangan di depan perut.

Pernapasan juga perlu diperhatikan. Saat membungkuk, hirup napas. Jangan bergerak selama membungkuk, lalu hembuskan napas. Sebelum kembali ke posisi semula, tarik napas kembali.

Terdapat tiga jenis ojigi yang umum dilakukan.

Eshaku

Eshaku (会釈) dilakukan dengan membungkukkan tubuh bagian atas 15 derajat. Mata harus menatap lantai pada 3 meter di depan.

Eshaku lazim dilakukan untuk menyapa dalam dunia bisnis. Biasanya dilakukan di antara sesama rekan kerja dengan jabatan setara.

Keirei

Keirei (敬礼) adalah ragam ojigi yang paling umum. Keirei lebih formal dan menunjukkan penghormatan yang lebih tinggi.

Ragam ini dilakukan dengan membungkukkan tubuh bagian atas sejauh 30 derajat. Mata harus menatap lantai pada 1 meter di depan.

Keirei lazim dilakukan saat menyapa klien, memulai rapat, atau berterima kasih kepada senior di kantor.

Saikeirei

Saikeirei (最敬礼) berarti “sikap paling hormat”. Ragam ini menunjukkan penghormatan paling tinggi kepada orang lain.

Saikeirei digunakan untuk menyapa orang yang sangat penting, meminta maaf, atau meminta bantuan besar.

Saikeirei dilakukan dengan membungkukkan tubuh bagian atas sejauh 45 sampai 70 derajat. Tindakan ini dilakukan agak lama untuk menunjukkan rasa hormat dan ketulusan.

Zarei

Zarei dilakukan sambil berlutut. Seiring Jepang memasuki era modern, zarei semakin jarang dipraktikkan.

Walaupun begitu, zarei masih dilakukan saat kegiatan tradisi, seperti upacara minum teh, kendo, dan tarian tradisional.