Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Penjelasan Ilmiah Déjà Vu adalah, Apa Penyebabnya?

deja vu

“Do you get déjà vu when she’s with you?”

Program Lister – Apakah kamu familiar dengan penggalan lirik lagu Olivia Rodrigo tersebut? Jangan-jangan, kamu pernah merasakan istilah yang disebut Rodrigo dalam lagunya, yakni déjà vu.

Déjà vu adalah fenomena ilmiah yang dialami tubuh kita terkait rekaman memori dalam otak. Fenomena ini sangat umum dialami setiap orang. Walaupun begitu, belum ada hasil penelitian yang menjelaskan secara pasti penyebab déjà vu.

Déjà vu adalah

Déjà vu adalah sensasi bahwa kita pernah mengalami situasi yang sama persis, padahal kenyataannya kita belum pernah mengalaminya.

Contohnya kamu pergi ke suatu taman. Kamu merasa pernah berdiri di titik yang sama, melihat bentuk awan yang sama di langit biru, lalu seseorang melambaikan tangan kepadamu. Kamu merasa dapat memprediksi detik-detik kejadian tersebut karena merasa memiliki ingatan yang sama persis.

Déjà vu biasanya berlangsung selama 10 sampai 30 detik. Fenomena ini sangat umum, sekitar 60-80 persen orang di dunia mengalami hal ini.

Déjà vu lebih banyak terjadi pada usia dewasa muda. Selewat usia 25 tahun, déjà vu tidak terlalu sering lagi dialami.

Selain itu ada beberapa ciri déjà vu, seperti lebih banyak terjadi pada orang yang mampu mengingat mimpi mereka dan orang yang sering bepergian, serta lebih sering terjadi pada sore hari dan akhir pekan.

Sensasi déjà vu biasanya cepat menghilang, sehingga orang segera melupakan detail kejadian yang dialami.

Kata déjà vu sendiri berasal dari bahasa Prancis, artinya pernah melihat. Istilah ini pertama kali dicetuskan Émile Boirac pada 1876. Boirac adalah seorang filsuf dan ilmuwan Prancis.

Penyebab Déjà vu

Penyebab déjà vu masih menjadi bahan penelitian para ilmuwan. Ada yang menyebutkan déjà vu terjadi akibat keinginan terpendam (Sigmund Freud), alam bawah sadar manusia (Carl Jung), hingga teori paranormal, yakni déjà vu muncul akibat pengalaman di kehidupan terdahulu.

Salah satu teori yang mungkin untuk menjelaskan fenomena déjà vu adalah proses penyimpanan memori dalam otak.

Teori ini menjelaskan bahwa memori tersimpan dalam lobus temporal di otak. Bagian otak ini membantu kita mengenali pengalaman yang familiar.

Saat terjadi kejang lobus temporal, terjadi aktivitas elektrik tak teratur yang menyebabkan sel saraf dalam otak menjadi macet. Kejang-kejang ini dialami penderita epilepsi.

Teori lain menyebutkan otak salah menyimpan informasi yang baru diterima di memori jangka panjang, padahal seharusnya ada di memori jangka pendek.

Salah satu hasil penelitian menggunakan MRI menunjukkan bagian otak yang mengatur memori, seperti hippocampus, justru tidak bereaksi saat terjadi déjà vu. Sementara itu area otak yang aktif adalah bagian yang terlibat dalam pengambilan keputusan.

Déjà vu diperkirakan sebagai bagian dari upaya otak menyelesaikan masalah dengan cara memindai memori.

Kuasai Bahasa Asing, Jadilah Citizen of the World!

Sudah tahu bahasa apa yang ingin kamu pelajari? Kamu akan menemukan kelas yang tepat sesuai kebutuhanmu di Program Lister. Di sini kamu akan belajar bersama tutor-tutor ahli dan bersertifikat, serta mendapatkan modul yang pastinya mendukung proses belajar. Kamu juga dapat memilih jumlah pertemuan sendiri. Daftar sekarang!