Dongeng Si Kancil dan Buaya adalah salah satu cerita rakyat yang sudah akrab di telinga banyak orang sejak kecil.
Kisah ini menceritakan kecerdikan Si Kancil yang selalu punya akal untuk lolos dari bahaya.
Dengan gaya sederhana dan lucu, dongeng ini sering dijadikan pelajaran tentang kepintaran dan kecermatan dalam menghadapi masalah.
Lister akan menyajikan cerita si kancil dan buaya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris untuk kamu.
Berikan Kursus Bahasa Inggris untuk Anak untuk Kemampuan yang Lebih Maksimal! |
Dongeng Si Kancil dan Buaya Bahasa Inggris Indonesia
Simak cerita kancil dan buaya dalam bahasa Inggris yang Lister sajikan untuk kamu!
The Clever Mouse-Deer and the Crocodiles
Once upon a time, deep in a green forest of Java, lived a small but clever animal called Kancil, the mouse-deer. Although his body was tiny and fragile, Kancil was known among the animals as the smartest creature in the forest. He loved wandering around, looking for food, and playing tricks whenever he faced danger.
One hot afternoon, Kancil walked near the river. His throat was dry, and his stomach rumbled. Across the river, he saw a beautiful garden filled with fresh cucumbers. “Ah,” he thought, “those cucumbers look delicious! If only I could cross this river.”
But the river was not safe. It was the home of many hungry crocodiles, who would love to eat a little mouse-deer for lunch. Kancil stood still and thought hard. Suddenly, his clever mind came up with a plan.
He shouted loudly, “Crocodiles! Come here! I bring a message from the King of the Jungle!”
One by one, the crocodiles appeared, their eyes just above the water. The biggest crocodile asked, “What is the message, little Kancil?”
Kancil answered confidently, “The King of the Jungle, our mighty lion, has ordered me to count all of you. He wants to give a big feast for the crocodiles. But first, I must know how many of you live in this river.”
The crocodiles’ eyes glittered with greed. A feast from the lion? They could not resist the idea. “Very well,” said the big crocodile. “We will line up so you can count us.”
At once, the crocodiles arranged themselves in a straight line, side by side, from one side of the river to the other. They thought they would soon enjoy a royal feast.
Kancil jumped happily onto the first crocodile’s back. “One!” he counted aloud. He leaped to the next. “Two!” Then the next. “Three!” On and on he went, hopping from one crocodile to another, while the crocodiles stayed still, waiting for him to finish.
Finally, Kancil reached the other side of the river. He had crossed safely without getting wet. He turned around, smiling mischievously, and shouted,
“Thank you, Crocodiles! Now I know how many of you live in this river. But I have no feast for you. I only needed a bridge to cross. Hahaha!”
The crocodiles roared with anger. Their tails splashed the water, and their sharp teeth shone under the sun. But it was too late. The clever mouse-deer was already far away, running into the cucumber garden.
Kancil bit into a juicy cucumber and laughed, “Brains are always stronger than teeth and claws!”
And so, Kancil once again escaped danger with his cleverness. The crocodiles learned never to trust him again, but in the forest, everyone continued to admire Kancil’s wit and intelligence.

Belajar bahasa Inggris melalui cerita pendek kancil dan buaya di atas akan membantu anak belajar dengan menyenangkan dan seru.
Nah apabila ingin memahami cerita kancil dan buaya singkat dan mudah, maka bisa cek dongeng kancil dan buaya dalam bahasa Indonesia berikut ini.
Kisah Si Kancil dan Buaya
| Pada zaman dahulu kala, di sebuah hutan yang lebat di Pulau Jawa, hiduplah seekor hewan kecil bernama Kancil. Tubuhnya memang kecil dan kakinya ramping, tetapi ia dikenal sebagai hewan paling cerdik di hutan. Banyak binatang lain yang kagum sekaligus kesal padanya, sebab kecerdikannya sering membuat Kancil berhasil lolos dari bahaya. Suatu siang yang sangat terik, Kancil berjalan menyusuri tepi sungai. Ia haus dan lapar. Dari kejauhan, ia melihat sebuah kebun mentimun yang tumbuh subur di seberang sungai. Daunnya hijau segar, dan buah mentimunnya bergantungan, besar-besar dan berkilau diterpa sinar matahari. Air liur Kancil menetes, “Ah, betapa enaknya kalau aku bisa menyantap mentimun itu.” Namun ada masalah besar. Sungai itu dihuni oleh banyak sekali buaya. Mereka lapar dan ganas, siap menerkam hewan yang berani menyeberang. Kancil pun berhenti sejenak, memutar otak, dan akhirnya tersenyum karena mendapat ide cemerlang. Dengan suara lantang, Kancil berteriak, “Hai Buaya! Kemarilah! Aku membawa pesan penting dari Raja Hutan!” Seekor buaya besar muncul dari dalam air. Matanya menyipit curiga. “Pesan apa, Kancil kecil?” tanyanya dengan suara berat. Kancil pura-pura anggun lalu berkata, “Raja Hutan, Singa yang perkasa, akan mengadakan pesta besar untuk para buaya. Ia ingin membagikan makanan lezat untuk kalian semua. Tapi sebelumnya, ia menyuruhku menghitung berapa jumlah buaya yang tinggal di sungai ini.” Mendengar kata “pesta” dan “makanan lezat”, para buaya langsung bersemangat. Mereka pun saling memanggil, hingga tak lama kemudian barisan buaya memenuhi sungai. Sang buaya besar berkata, “Baiklah, kami akan berbaris agar kau bisa menghitung kami.” Dengan patuh, buaya-buaya itu membuat jembatan hidup, dari tepi sungai yang satu ke tepi lainnya. Kancil tersenyum girang, lalu melompat ke punggung buaya pertama. “Satu!” teriaknya sambil melompat ke buaya berikutnya. “Dua! Tiga! Empat!” begitu seterusnya hingga ia sampai di seberang sungai dengan selamat. Sesampainya di seberang, Kancil menoleh ke arah buaya-buaya itu dan tertawa terbahak-bahak. “Terima kasih, Buaya! Kalian sudah membantuku menyeberang sungai. Tapi jangan berharap ada pesta. Tidak ada makanan dari Raja Hutan. Itu hanya akalku saja! Hahaha!” Para buaya marah besar. Mereka menggertakkan gigi tajam dan mengibas-ngibaskan ekor hingga air sungai bergejolak. Namun apa daya, Kancil sudah berada jauh di kebun mentimun. Ia memetik satu buah, menggigitnya, dan berkata sambil tersenyum puas, “Hmm, segarnya! Benar kan? Akal lebih tajam daripada gigi dan cakar.” Sejak hari itu, buaya-buaya bersumpah tidak akan pernah percaya lagi pada ucapan Kancil. Namun kisah kecerdikan Si Kancil terus hidup dan menjadi pelajaran bagi banyak hewan di hutan: kepintaran dan akal sehat sering kali lebih berguna daripada kekuatan semata. |
Berikan Kursus Bahasa Inggris untuk Anak untuk Kemampuan yang Lebih Maksimal!
Di Lister, tersedia kelas English for Kids yang dirancang khusus dengan metode menyenangkan dan interaktif.
Kelas dilakukan 100% online, sehingga anak bisa belajar dari rumah dengan nyaman. Jam belajarnya juga fleksibel, bisa disesuaikan dengan jadwal anak dan orang tua.
Tutor profesional Lister siap membimbing dengan materi yang sesuai usia dan kebutuhan belajar anak.
Selain itu, materi disesuaikan dengan kebutuhan sehingga anak lebih mudah memahami kosakata sehari-hari dan melatih kemampuan berbicara.
Konsultasi gratis sekarang juga lewat WhatsApp dan dapatkan kelas terbaik untuk anak!
Sumber gambar sampul: freepik



