Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on google
Share on telegram

Usia Terbaik Belajar Bahasa Asing, Kapan?

bahasa asing

“Orang -orang kadang bertanya, apa keuntungan terbesar menguasai bahasa asing? Apakah saya akan menghasilkan lebih banyak uang? Apakah saya akan lebih pintar? Apakah saya akan tetap sehat? Tetapi sebenarnya, keuntungan terbesar dari menguasai bahasa asing adalah mampu berkomunikasi dengan lebih banyak orang.

Danijela Trenkic, pakar psikolinguistik di Universitas York

Kamu setuju dengan pernyataan di atas, fellas? Bagaimana pandangan kamu?

Jika memang keuntungan berbahasa asing adalah mampu berkomunikasi dengan lebih banyak orang, kamu pasti ingin segera mempelajarinya, bukan?

Namun, kapan sih usia terbaik kita mulai belajar bahasa asing?? Anak-anak, remaja, atau dewasa?

Dalam hal belajar bahasa asing, kita cenderung beranggapan bahwa usia kanak-kanak adalah usia yang paling cakap dan tepat. Tapi tidak selalu demikian — dan ternyata ada banyak manfaat lain ketika kita memulai di usia dewasa lho.

Dilema: Dewasa atau Muda?

usia terbaik belajar bahasa asing

Secara umum, setiap tahapan kehidupan memberi keuntungan yang berbeda dalam mempelajari bahasa. Sebagai bayi, kita punya telinga yang lebih tajam untuk perbedaan suara; sebagai balita, kita bisa menguasai logat asli dengan kecepatan luar biasa.

Sedangkan orang dewasa, kita punya rentang perhatian yang lebih panjang dan keterampilan krusial, seperti literasi, yang dapat mendorong untuk memperkaya perbendaharaan kata, bahkan dalam bahasa kita sendiri.

Dan setumpuk faktor lain di samping usia – seperti situasi sosial, cara mengajar, dan bahkan cinta dan persahabatan – dapat memengaruhi seberapa banyak bahasa yang kita kuasai dan seberapa baik kita menguasainya.

“Tidak semuanya menjadi semakin sulit seiring pertambahan usia,”

Antonella Sorace, profesor linguistik perkembangan dan direktur Billingualism Matters Centre di Universitas Edinburgh.

Pembelajaran Eksplisit VS Implisit

Ia memberi contoh tentang konsep yang dikenal sebagai ‘pembelajaran eksplisit’: mempelajari suatu bahasa di dalam kelas, dengan sang guru menjelaskan aturan-aturan tata bahasanya.

Anak-anak akan tidak cocok dalam pembelajaran eksplisit, sebaliknya orang dewasa akan lebih cocok.

Penelitian di Israel menemukan, misalnya, bahwa orang dewasa lebih baik dalam memahami aturan bahasa dan menerapkannya pada kata-kata baru di lingkungan laboratorium. Para ilmuwan membandingkan tiga kelompok: usia 8 tahun, usia 12 tahun, dan usia dewasa muda (young adults). Orang dewasa mendapat skor yang lebih baik dari dua kelompok yang lebih muda, dan kelompok usia 12 tahun juga lebih baik dari anak-anak yang lebih muda.

Temuan ini senada dengan hasil studi jangka panjang pada hampir 2000 pemakai bahasa Catalan-Spanyol yang mempelajari bahasa Inggris: orang yang mulai belajar di usia dewasa mengusai bahasa barunya lebih cepat daripada para pelajar yang lebih muda.

Para peneliti di Israel menduga bahwa partisipan yang lebih tua bisa jadi diuntungkan karena keterampilan yang muncul seiring dengan pendewasaan – misalnya, strategi pemecahan masalah yang lebih kompleks – dan pengalaman linguistik yang lebih banyak.

Dengan kata lain, para pelajar yang lebih tua cenderung tahu lebih banyak tentang diri mereka sendiri dan dunia, dan bisa menggunakan pengetahuan ini untuk memproses informasi baru.

Sedangkan anak-anak usia dini unggul dalam pembelajaran implisit: mendengarkan penutur asli dan meniru mereka. Tapi cara belajar ini membutuhkan banyak waktu bersama penutur asli.

Belajar Bahasa Harus Sejak Dini?

Pada mulanya, kita semua adalah ahli bahasa.

Ketika bayi, kita bisa mendengar 600 konsonan dan 200 huruf vokal yang kemudian menyusun bahasa-bahasa dunia. Dalam satu tahun pertama, otak mulai berspesialisasi, mulai awas akan suara yang kita dengar paling sering. Spesialisasi berarti mengabaikan keterampilan yang tidak kita perlukan. Bayi Jepang bisa dengan mudah membedakan bunyi huruf ‘l’ dan ‘r’; orang dewasa Jepang cenderung lebih sulit melakukannya.

Bayi sudah bisa mengoceh dengan bahasa ibu mereka. Bahkan orok yang baru lahir menangis dengan aksen, meniru pembicaraan yang mereka dengar di dalam rahim lho.

Tak heran, jika tahun-tahun awal adalah masa keemasan mempelajari bahasa kita sendiri. Studi tentang anak-anak yang diabaikan atau diasingkan menunjukkan bahwa jika kita tidak belajar berbicara sejak dini, kita akan kesulitan melakukannya nanti.

Jika kita tidak belajar berbicara sejak dini, kita akan kesulitan melakukannya nanti?

Seorang pakar psikolinguistik di Universitas York memberi jawaban, “kehidupan anak-anak sangat berbeda dari kehidupan orang dewasa. Jadi ketika kita membandingkan keterampilan bahasa anak-anak dan orang dewasa, ingatlah kedua hal itu setara dan tidak perlu dibandingkan.”

Dia memberi contoh sebuah keluarga yang pindah ke negara baru. Biasanya, anak-anak akan belajar bahasa jauh lebih cepat daripada orang tua mereka.

Mereka merasakan urgensi yang lebih besar karena penguasaan bahasa itu penting bagi kelangsungan kehidupan sosial mereka: berteman dan diterima di tengah orang-orang baru. Di sisi lain, orang tua cenderung bersosialisasi dengan orang-orang yang memahami mereka, seperti sesama imigran.

Namun, ada satu kelebihan orang dewasa dalam belajar bahasa baru seperti yang utarakan Trenkic bahwa, orang dewasa sering melibatakan ikatan emosional di antara mereka sehingga lebih baik dalam belajar bahasa.

“Menciptakan ikatan emosional adalah hal yang membuat Anda lebih baik dalam belajar bahasa.”

Danijela Trenkic

Note: Bangun dan miliki ikatan emosional antara guru dan murid untuk merasakan progress belajar bahasa asing yang lebih baik!

Ref: What is the Best Age to Learn a Language? – bbc.com