Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on google
Share on telegram

Tips Kelola Uang Beasiswa Paling Realistis

mengatur keuangan beasiswa

Salah satu skill yang sangat diperlukan oleh mahasiswa yang kuliah di luar negeri adalah mengelola keuangan pribadi. Singkatnya, pengelolaan keuangan berarti memastikan kalau total pengeluaran tidak lebih besar dari total pemasukan sebagai mahasiswa.

Kehidupan mahasiswa biasanya dipenuhi oleh kuliah, ujian, dan mungkin pekerjaan part-time. Ketiga hal ini biasanya sudah cukup untuk membuat stress. Kalau tidak mengelola keuangan dengan baik, stress yang ada bisa jadi berkali-kali lipat lho.

Tapi, gimana sih cara mengatur uang saku beasiswa dengan baik ngga terkesan muluk-muluk tapi realistis?

Nah, di artikel ini kita akan membahas strategi yang bisa kamu terapin untuk mengatur keuangan biar ngga boncos!

Planning Organization GIF by Banco Itaú

Secara sederhana, pengelolaan keuangan hanya terdiri dari tiga tahapan, yaitu:

1. Tentukan pemasukan

Tahap pertama, tentukan pemasukan keuangan setiap bulan. Untuk pelajar, biasanya pemasukan berasal dari beasiswa, pinjaman / student’s loan, gaji dari hasil kerja part-time, tabungan, atau uang bulanan dari keluarga. Sebaiknya seluruh pemasukan walaupun sekecil apapun, ikut didata dan ditulis.

2. Bagi pengeluaran menjadi beberapa kategori

Di tahap kedua ini, pikirkan pengeluaran rutin per bulan dan pisahkan masing-masing pengeluaran ke dalam pos tertentu. Dengan cara ini kamu dapat memprioritaskan pengeluaran yang harus dibayar dan yang hanya keinginan.

Contoh beberapa kategori pengeluaran untuk pelajar antara lain:

Pengeluaran rutin dan penting

Kategori ini untuk pengeluaran bulanan yang tergolong penting. Istilahnya, kalau tagihan dalam kategori ini tidak dibayar maka bisa berdampak pada status kamu sebagai mahasiswa internasional. Contoh: Biaya kuliah, uang sewa tempat tinggal, tagihan bulanan terkait tempat tinggal (misalnya biaya listrik dan air), uang makan, biaya transportasi harian, pulsa atau paket internet, asuransi, dana tidak terduga, dan pengeluaran untuk perlengkapan kuliah (misal buku, alat tulis).

Pengeluaran rutin namun tidak terlalu penting

Kategori kedua ini untuk pengeluaran rutin yang diayarkan per bulan, namun sebenarnya tidak benar-benar dibutuhkan. Misalnya biaya TV berlangganan, biaya registrasi akses musik, atau biaya berlangganan suatu aplikasi tertentu. Jika apps tersebut tidak diperlukan untuk kuliah atau pelajaran, sebaiknya dipikirkan kembali apakah memang benar-benar memerlukan akses berbayar atau tidak.

Pengeluaran tambahan

Kategori ketiga adalah untuk pengeluaran lain yang tidak termasuk di dua kategori di atas. Contohnya adalah biaya untuk makan di luar (termasuk biaya transportasi dan biaya makan), hobi, pembelian baju atau aksesoris, menonton konser, tiket liburan, dan lainnya. Kategori terakhir ini biasanya adalah pengeluaran spontan dan tak terduga, namun bisa jadi paling tinggi dibanding kedua kategori lainnya.

3. Tentukan budget mingguan

Setelah memiliki data pemasukan dan pengeluaran yang lengkap, ini saatnya tentukan besaran budget mingguan yang dimiliki. Budget mingguan ini adalah besaran uang yang boleh kalian habiskan dalam satu minggu. Agar keuangan kalian sehat, kalian tidak boleh melebihi budget mingguan ini.

Lalu, bagaimana cara menentukan budget mingguan? Simpel banget!

  • Jumlahkan seluruh pemasukan selama per bulan. Jika ada pemasukan yang diterima per semester, maka ada baiknya dibagi dulu pemasukan tersebut menjadi per bulan supaya tidak bingung.
  • Kurangi pemasukan tersebut dengan jumlah pengeluaran kategori rutin dan penting. Ingat ya, yang dikurangi adalah pemasukan dan pengeluaran per bulan.
  • Kurangi lagi angka di atas dengan alokasi dana darurat per bulan. 
  • Sisa dana dari pengurangan tersebut adalah budget bulanan yang dimiliki. Bagi menjadi budget per minggu. Misalnya: kamu mengambil kuliah dengan beasiswa partial, dan di akhir minggu memiliki penghasilan lain dari bekerja part-time. Total penghasilan per bulan adalah €3.500. Sedangkan pengeluaran rutin dan penting per bulan adalah €1.400, dan alokasi dana darurat per bulan adalah €100. Maka budget mingguan adalah €500, yang didapat dari €3.500 – (€1400 + €100) dan dibagi empat minggu. Dengan cara ini, kamu akan terlatih berpikir ulang untuk membayar pengeluaran-pengeluaran yang tidak terlalu diperlukan.

“Loh kak, terus gimana caranya ngebedain ini kebutuhan dan keinginan? Kadang keduanya sama-sama penting!”

Okey! Kalau masih bingung, coba ikuti tips Lister ini deh!

  • Pertama, tuliskan semua hal yang ingin kamu beli dalam jangka waktu pendek maupun panjang.
  • Lalu pisahkan apakah masing-masing item tersebut adalah hal yang benar – benar kamu butuhkan atau hanya keinginan semata. Tentukan juga untuk item yang ternyata masuk ke keinginan, apakah kamu masih menginginkan barang yang sama di bulan depan? Bagaimana dengan 3 bulan dari sekarang?
  • Selanjutnya, berikan prioritas ke setiap item yang ada di list.
  • Setelah diberi prioritas maka kamu dapat mengalokasikan budget untuk item-item kebutuhan dengan prioritas pertama terlebih dahulu. Dengan memberi prioritas maka tidak akan membebani budget bulanan kalian. Setelah item dengan prioritas pertama tercapai, pindah ke item kebutuhan dengan prioritas kedua, dan seterusnya. Ini contoh list keinginan dan kebutuhan setelah mengikuti langkah di atas:
  • Membeli handphone baru – WANT – Prioritas ke-3
  • Membeli buku untuk tugas kuliah – NEED – Prioritas ke-1
  • Membayar cicilan kartu kredit – NEED – Prioritas ke-1
  • Liburan singkat di musim panas – WANT – Prioritas ke-2

Nah, bagaimana menurut kamu, fellas? Sudah sangat realistis-kan tipsnya? Yuk coba terapkan mulai dari sekarang! Selamat mencoba!