Tertarik Kuliah ke New Zealand? Simak Dulu Cerita Agung Harahap Kuliah di The University of Auckland

Tertarik Kuliah ke New Zealand? Simak Dulu Cerita Agung Harahap Kuliah di The University of Auckland

Dengan tagline #learnwiththeexperts, Lister sangat cocok dijadikan teman belajar siapa saja yang terkendala bahasa asing nih, di sana banyak tutor profesional yang siap membantu mewujudkan impian kamu, salah satunya seperti kak Agung: kuliah ke New Zealand dengan beasiswa. Wow!

Siapa yang tidak tahu negara dengan julukan negeri Kiwi ini? Dikenal sebagai rumah bagi banyak universitas unggul yang sukses mendapatkan pengakuan global. Tercatat 8 universitas yang termasuk dalam daftar 500 universitas terbaik dunia berdasarkan Pemeringkatan Universitas Dunia QS tahun 2020. Selain dari kualitas pendidikan yang unggul, peluang wisata ke seantero negeri tentu menjadi daya tarik tersendiri. 

Begitulah kak Agung, sapaan akrab pria kelahiran Jambi ini akhirnya memutuskan melanjutkan studi ke New Zealand di jurusan Applied Linguistics di The University of Auckland. Negara yang damai tapi sangat tepat waktu itu menjadi pilihan destinasi studi lanjutannya. Karena memiliki lingkungan yang nyaman dan aman serta penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari yang memudahkan untuk dapat berinteraksi dengan warga asli.

Kak Agung menuturkan bahwa New Zealand adalah negara yang tepat untuk dipilih para pelajar internasional yang menginginkan ketenangan ketika menuntut ilmu di luar negeri. Bagaimana tidak, dengan populasi sekitar 5 juta penduduk membuat New Zealand masih bersih, damai, dan aman. Hal tersebut tentu menguntungkan bagi pelajar bukan?

Melalui beasiswa LPDP, kak Agung bisa kuliah ke New Zealand. Ia pun merasa sangat terbantu, namun tantangannya berada di finance management. Karena biaya akomodasi yang sedikit lebih mahal, terlebih kota Auckland dikenal sebagai pusat bisnis. Namun, kak Agung mencoba mensiasatinya dengan mengolah masakan sendiri.

WA Agung

Pada masa perkuliahan sekitar 1-2 bulan pertama, kak Agung sempat merasa insecure apakah dirinya bisa survive dengan ritme dan metode perkuliahan yang sangat berbeda dengan Indonesia itu. Namun, setelah beradaptasi, kak Agung malah sangat menikmati momen berkuliah di sana terlebih ia masuk ke kelas internasional. Ia menceritakan bahwa kegiatan perkuliahan kebanyakan dilakukan secara mandiri. Jadi, mahasiswa hanya melakukan pembelajaran tatap muka 2 jam selama seminggu di kelas. Sisanya dilakukan secara mandiri dengan ekspektasi belajar 7 jam selama seminggu. Eits, maksud dari belajar mandiri itu tidak mesti belajar sendiri tapi bisa berkelompok juga.

Selama kuliah di sana, kak Agung merasakan banyak perubahan. Salah satunya, ia menjadi lebih mandiri. Karena terbiasa mengurus sendiri mulai dari administrasi ataupun yang lainnya. Namun, ia sangat bersyukur karena fasilitas kampus yang memadai sangat membantunya, seperti akses internet yang mudah, buku atau jurnal yang tersedia luas, perpustakaan yang lengkap serta fasilitas lainnya.

Tak lupa fasilitas umum yang aman dan nyaman seperti Sky Bus dan kereta sebagai alat transportasi andalan. Jika ingin travelling,  kak Agung sangat menyarankan untuk melakukan open trip bersama teman-teman karena lebih terjangkau. Ada beberapa tempat wisata yang ia rekomendasikan untuk dikunjungi nih, seperti Sky Tower dan The Hobbit yang jaraknya tidak terlalu jauh. Oya, untuk kamu yang berniat ke New Zealand tidak perlu khawatir jika merasa homesick atau rindu dengan masakan Indonesia, karena sudah ada food court masakan khas Indonesia juga loh. 

Satu lagi, mungkin berdamai dengan perubahan ritme perkuliahan tidak jadi masalah, tapi bagaimana jika dengan kondisi cuaca? Seperti yang dialami kak Agung yang terkena cultural shock. Di musim dingin tanpa salju itulah kak Agung jadi sering sakit. Terlebih kondisi cuaca yang tidak menentu seperti 4 musim yang terjadi dalam satu hari. Wow!

“Bawalah jas hujan setiap kali pergi karena tidak tau kondisi cuaca akan seperti apa. Tidak usah membawa atau membeli payung, karena percuma. Pasti rusak terkena angin yang kencang.”

Agung Harahap

Ibarat pelangi yang datang setelah badai reda, kak Agung merasa senang karena bertemu banyak saudara baru di Auckland. Kondisi masyarakat yang sangat beragam baik dari kalangan pelajar dan pekerja internasional, memperluas relasi yang dimilikinya. Ia pun tergabung di beberapa organisasi, salah satunya PPIA atau Perhimpunan Pelajar Indonesia di Auckland. Berbagai event seperti PPIA orientation, welcoming party, peringatan the independence day, acara keagamaan, serta ASEAN Cultural Night juga pernah menjadi bagian dari kesibukan kak Agung di sana. Untuk yang muslim, bisa gabung ke HUMIA (Himpunan Muslim di Auckland) untuk berkumpul dengan saudara seiman juga. Ia pun menceritakan bahwa di Auckland sangat menjunjung tinggi toleransi dan saling menghargai. Jika diadakan party setelah ujian/exam, kak Agung pun menyempatkan datang meski untuk sosialisasi saja.

Menurutnya, persaingan untuk bisa diterima kuliah di New Zealand tidak sesulit untuk mendapatkan beasiswanya, LPDP. Kak Agung sangat menyarankan jika ingin lolos beasiswanya, minimal persiapan itu sekitar 3-6 bulan. Terutama kemampuan berbahasa Inggris dan IELTS yang sudah ditentukan sesuai standar. Hal tersebut yang perlu menjadi perhatian bagi siapa saja yang berniat kuliah ke luar negeri. Melakukan usaha persiapan itu harus sedini mungkin agar maksimal hasilnya. Salah satunya ikut program dari Lister untuk meningkatkan skor IELTS atau mentoring persiapan kuliah ke luar negeri. Wajib dicoba nih!

Sebagai salah satu mahasiswa luar negeri yang berhasil lulus tepat waktu, ia pun menuturkan  dua hal yang menjadi strateginya yaitu memiliki time management yang baik dan jangan terlarut dalam memuaskan keinginan pribadi seperti travelling.

“Kita harus bisa membuat prioritas. Setelah tugas-tugas selesai, baru jalan-jalannya akan terasa lebih puas”

Agung Harahap

Baca Juga:

Mentoring Beasiswa Luar Negeri

Panduan Test Toefl dan IELTS

Kursus IELTS Online Bersama Lister

Cerita Tutor Inspiratif Ala Lister : Erina Prastyani, Mendapat Beasiswa Kuliah ke Swedia

Cerita Tutor Inspiratif Ala Lister: Erina Prastyani, Meraih Beasiswa Studi ke Swedia

Cerita Tutor Inspiratif Ala Lister: Erina Prastyani, Meraih Beasiswa Studi ke Swedia

lister.co.id – Bermimpi memang mudah, tapi mewujudkan mimpi itu menjadi nyata butuh perjuangan yang tidak biasa. Hal itu pula yang dialami oleh Erina Prastyani, yang merupakan salah satu tutor Lister sekaligus peraih beasiswa studi ke Swedia. Kepada Lister, kak Erina menceritakan bagaimana kisah perjuangannya hingga mendapatkan beasiswa tersebut.

Kak Erina adalah lulusan cumlaude Universitas Gajah Mada pada tahun 2017 dari jurusan Geofisika dengan IPK 3,78. Kala itu, ia mendapatkan tawaran melanjutkan sudi ke Taiwan, namun ia tolak lantaran menginginkan belajar di benua Eropa. Ia pun terpaksa melepaskan tawaran tersebut demi mimpinya menimba ilmu di benua biru.

Keinginannya untuk kuliah di luar negeri sudah ada saat ia masih duduk di bangku kuliah tahun kedua. Sehingga secara mandiri, kak Erina mencari informasi terkait beasiswa, jurusan, dan universitas yang ia inginkan. Namun, karena berjuang sendiri terlalu berat, ia pun mencari komunitas yang sevisi di telegram. Di situlah kak Erina menemukan banyak relasi yang saling mendukung mimpi masing-masing.

Singkat cerita, pada tahun 2018, kak Erina pun mendaftar beasiswa studi master melalui beasiswa LPDP jalur Bidikmisi afirmasi dan diterima. Kemudian, Ia memilih Master Programme in Geophysics specialization di Uppsala University.

Apa alasan memilih jurusan dan universitas tersebut?

Alasan kak Erina memilih jurusan tersebut adalah keinginannya menjadi seorang researcher. Dan untuk mencapainya, ia harus memilih jurusan kuliah yang linear dengan jurusan sewaktu S1 dulu. Berlatar belakang prodi Geofisika akan memudahkan dirinya terjun langsung mempelajari baik itu lingkup fisika mapun kebumiannya.

Sedangkan alasan ia melabuhkan hati di Uppsala University adalah saat menyusun thesis S1 dulu, ia menuturkan bahwa kebanyakan referensi jurnal terkait salah satu metode geofisika yang ia gunakan berasal dari Uppsala University di Swedia. Selain itu, dari kualitas pengajaran dan sumber intelektual yang luas di sana membuat kak Erina akhirnya memilih Uppsala University di Swedia menjadi pilihannya.

Tantangan Terberat

Layaknya menjemput impian yang selalu ada tantangan. Kak Erina bercerita, hal yang paling krusial adalah saat memohon restu sang Ibu. Sebagai anak perempuan pertama, banyak hal yang menjadi pertimbangan dirinya, terutama keadaan sang Ibu sebagai single parent serta kedua adiknya yang masih sekolah. Kebulatan tekadnya benar-benar diuji kala itu, belum lagi melihat kondisi dirinya sebagai anak pertama yang diharapkan dapat menjadi tulang punggung keluarga. Namun, karena ia sudah yakin itu adalah jalan terbaik, secara perlahan kak Erina mulai terbuka dan berdiskusi terkait niatnya untuk keluar negeri.

Tanpa disangka, ketakutan itu hanya berada di dalam kepalanya saja, sang Ibu justru sangat mendukung penuh niat itu. Kak Erina menjelaskan bahwa sebagai anak pertama, ia ingin memberi teladan yang baik untuk kedua adiknya. Anak teladan, nih!

Harapan sepulang dari Swedia nanti, ia bisa menjadi manusia yang memiliki kebermanfaatan luas dan tentu mewujudkan keinginannya menjadi researcher di bidang energi.

Kuliah ke luar negeri tanpa tujuan yang jelas, apa jadinya?

Sebelum apply beasiswa, Kak Erina sering dihinggapi rasa ragu apakah benar ia ingin kuliah di Swedia. Lalu, ia pun berhenti sejenak untuk merenungi kembali tujuannya itu. Menurutnya, sebuah keraguan akan selalu ada, tapi kita bisa memilih untuk tenggelam dalam keraguan, atau bangkit dan terus melangkah.

Kuliah di luar negeri tentu berbeda dengan di dalam negeri, banyak persiapan yang harus dilakukan. Banyak waktu dan energi yang harus dikorbankan, seperti mengikuti tes IELTS, persiapan bahasa, dan menyiapkan dokumen pendukung lainnya.

Proses itu sangat melelahkan sekaligus menantang. Oleh karenanya, motivasi yang kuat di awal akan menguatkan dan mengingatkan kita untuk terus melangkah tatkala keinginan menyerah kian membuncah.

Perkara kuliah ke luar negeri adalah tanggung jawab yang berat. Sebuah amanah tidak hanya dari pemerintah dan tempat kita kuliah namun juga lembaga penyedia beasiswa. Karena penyedia beasiswa juga tidak mau asal-asalan, dalam proses seleksinya juga ketat. Oleh karena itu, alasan untuk kuliah di luar negeri sebenarnya harus dari dalam diri sendiri bukan orang lain, apalagi sekadar ikut-ikutan.

Kalau ingin kuliah ke luar negeri, jangan sampai cuma ikut-ikutan. Bakalan susah bertahan, tanggung jawabnya berat. Kamu harus menemukan the true motivation

Erina Prastyani

Untuk tips lolos tes IELTS dari Kak Erina sendiri, ia menuturkan bahwa kuncinya berada pada pemahaman terhadap format soal, konsistensi latihan soal, serta menemukan partner belajar. Sehingga Kak Erina sangat merekomendasikan siapa saja yang ingin kuliah ke luar negeri untuk melakukan persiapan sejak dini. Misalnya, mengambil kursus persiapan tes IELTS yang berkualitas di Lister.

Begitulah sedikit kisah dari kak Erina, semoga menginspirasi kamu ya. Sudah siap menjadi the next awardee?