Andri Wardana, Lika-Liku Menimba Ilmu di Benua Hijau

Andri Wardana, Lika-Liku Menimba Ilmu di Benua Hijau

Lister sebagai platform belajar bahasa asing online di Indonesia kali ini kembali mewawancari seorang lulusan Master of Education in TESOL dari University of New South Wales yang juga sebagai tutor di Lister. Mau tau kisahnya belajar di benua hijau? Simak artikel ini sampai habis yuk.

Beliau adalah Andri Wardana, pria kelahiran Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara ini menceritakan bagaimana awal mula memiliki impian kuliah ke luar negeri. Semua berawal ketika masih duduk di bangku S-1 dan kemudian terinspirasi oleh gaya mengajar sang dosen yang sangat seru. Menjadi pengajar yang profesional dan disukai para mahasiswa, itulah awal mula yang mendorong langkah kakinya sampai ke Australia, lalu kuliah di University of New South Wales dengan beasiswa LPDP. Kecintaannya pada dunia mengajar mengantarkan dia pada jurusan Master of Education in TESOL untuk lebih mendalami ilmu pedagogy dan language learning.

Australia sebagai negara dengan sistem pendidikan yang unggul dan beragam fasilitas yang aman dan nyaman menjadi pertimbangan utama. Sedangkan, peringkat universitas yang bagus dan program di jurusan TESOL yang diampu oleh ahli/profesional membuat University of New South Wales menjadi pilihan tempat belajarnya.

Lika-Liku Kuliah di Australia

The University of New South Wales, sebagai kampus yang sangat supportif terhadap keperluan mahasiswa internasional, termasuk keberadaan student learning centre yang sangat membantu dalam hal akademik, kepenulisan, dan psikologi.

Berbagai fasilitas yang ditawarkan seperti banyaknya club-club pengembangan diri. Bahkan, kak Andri pernah ditunjuk sebagai perwakilan mahasiswa internasional dalam rangka menghadiri teaching and learning committee di School of Education, UNSW. Acara tersebut adalah pertemuan bulanan untuk menjaring aspirasi/saran dari mahasiswa internasional terhadap proses pembelajaran di jurusan.

Di luar kampus, kak Andri turut berpartisipasi di PPI Australia, yaitu komunitas mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Australia. Aktif dalam berbagai kepanitiaan seperti Keluarga Pelajar Islam Australia (KPII) yang pernah mengadakan acara welcoming dan farewell, mengajar di TPA, kajian rutin mingguan dan bulanan dan lain-lain. Selain itu, pernah menjadi bagian dari acara Indonesian Diaspora Night 2018 di Australia, pemilihan pengurus Centre for Islamic Dakwah and Education (CIDE NSW), serta pemilihan presiden 2019.

Di sana, kak Andri membiasakan jalan kaki atau bersepeda karena jarak tempuhnya sekitar 800-100 km ke kampus. Dan untuk biaya hidup ia menuturkan paling tidak 1100 dollar per bulan, termasuk akomodasi yang sharing room serta transportasi dan lain-lain.

Pesan untuk mereka

Tak lupa, kak Andri pun berpesan bagi siapa saja yang tertarik kuliah ke luar negeri, hal yang perlu dipersiapkan adalah kemampuan menulis academic writing. Sangat disarankan untuk membiasakan terhadap bentuk-bentuk scientific article, kaidah kepenulisan, dan referensi.Nah, jika teman-teman masih kesulitan belajar academic writing, segera saja gabung di Lister. Sudah banyak testimoni yang berhasil, yuk mulai upgrade your writing skill.

Baca : Academic Writing – Mengenal Cara Menulis Artikel Jurnal Ilmiah Berbahasa Inggris.

Yang kedua adalah memupuk mental yang kuat dan rasa nasionalisme yang tinggi.

“Jangan sampai ketika di sana, kita terbiasa membandingkan Australia dengan negara sendiri, menurut saya itu kurang baik dan tidak akan merubah apapun. So, don’t judge, just observe and learn!”

Andri Wardana

“Kita kesana kan mau belajar, pelajari apa yg perlu dipelajari dan tinggalkan yang tidak perlu. Miliki mental belajar bukan mental menghakimi. Buatlah hal-hal yang lebih bermanfaat karena waktunya hanya sebentar.”

Andri Wardana

Terbiasa dengan perubahan

Kak Andri bercerita ketika kuliah di Australia, ia tidak mengalami culture shock terhadap perubahan gaya hidup dan budaya di sana loh. Justru perubahan itu ia alami setelah pulang dari luar negeri. Wawasan yang semakin bertambah membuat kak Andri menjadi pribadi yang tidak mudah menjudge perkataan orang lain. Selain itu, ia sangat concern pada pentingnya adab sebelum ilmu. Baginya, bagaimana cara kita memperlakukan orang tersebut lebih berharga daripada ilmu itu sendiri.

“Mungkin untuk pejuang beasiswa di luar sana, ketika kita punya mimpi percayalah setiap usaha pasti akan berbuah hasil. Semakin besar usaha dan pengorbanan, semakin besar pula hasilnya. Insya Allah!”

Andri Wardana

Begitulah, sekelumit kisah berkuliah di benua hijau dari kak Andri Wardana. Harapannya, semakin banyak generasi muda yang juga mengikuti jejaknya ya!

Baca juga artikel Lister lainnya:

Tertarik Kuliah ke New Zealand? Simak Dulu Cerita Agung Harahap Kuliah di The University of Auckland

Tertarik Kuliah ke New Zealand? Simak Dulu Cerita Agung Harahap Kuliah di The University of Auckland

Dengan tagline #learnwiththeexperts, Lister sangat cocok dijadikan teman belajar siapa saja yang terkendala bahasa asing nih, di sana banyak tutor profesional yang siap membantu mewujudkan impian kamu, salah satunya seperti kak Agung: kuliah ke New Zealand dengan beasiswa. Wow!

Siapa yang tidak tahu negara dengan julukan negeri Kiwi ini? Dikenal sebagai rumah bagi banyak universitas unggul yang sukses mendapatkan pengakuan global. Tercatat 8 universitas yang termasuk dalam daftar 500 universitas terbaik dunia berdasarkan Pemeringkatan Universitas Dunia QS tahun 2020. Selain dari kualitas pendidikan yang unggul, peluang wisata ke seantero negeri tentu menjadi daya tarik tersendiri. 

Begitulah kak Agung, sapaan akrab pria kelahiran Jambi ini akhirnya memutuskan melanjutkan studi ke New Zealand di jurusan Applied Linguistics di The University of Auckland. Negara yang damai tapi sangat tepat waktu itu menjadi pilihan destinasi studi lanjutannya. Karena memiliki lingkungan yang nyaman dan aman serta penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari yang memudahkan untuk dapat berinteraksi dengan warga asli.

Kak Agung menuturkan bahwa New Zealand adalah negara yang tepat untuk dipilih para pelajar internasional yang menginginkan ketenangan ketika menuntut ilmu di luar negeri. Bagaimana tidak, dengan populasi sekitar 5 juta penduduk membuat New Zealand masih bersih, damai, dan aman. Hal tersebut tentu menguntungkan bagi pelajar bukan?

Melalui beasiswa LPDP, kak Agung bisa kuliah ke New Zealand. Ia pun merasa sangat terbantu, namun tantangannya berada di finance management. Karena biaya akomodasi yang sedikit lebih mahal, terlebih kota Auckland dikenal sebagai pusat bisnis. Namun, kak Agung mencoba mensiasatinya dengan mengolah masakan sendiri.

WA Agung

Pada masa perkuliahan sekitar 1-2 bulan pertama, kak Agung sempat merasa insecure apakah dirinya bisa survive dengan ritme dan metode perkuliahan yang sangat berbeda dengan Indonesia itu. Namun, setelah beradaptasi, kak Agung malah sangat menikmati momen berkuliah di sana terlebih ia masuk ke kelas internasional. Ia menceritakan bahwa kegiatan perkuliahan kebanyakan dilakukan secara mandiri. Jadi, mahasiswa hanya melakukan pembelajaran tatap muka 2 jam selama seminggu di kelas. Sisanya dilakukan secara mandiri dengan ekspektasi belajar 7 jam selama seminggu. Eits, maksud dari belajar mandiri itu tidak mesti belajar sendiri tapi bisa berkelompok juga.

Selama kuliah di sana, kak Agung merasakan banyak perubahan. Salah satunya, ia menjadi lebih mandiri. Karena terbiasa mengurus sendiri mulai dari administrasi ataupun yang lainnya. Namun, ia sangat bersyukur karena fasilitas kampus yang memadai sangat membantunya, seperti akses internet yang mudah, buku atau jurnal yang tersedia luas, perpustakaan yang lengkap serta fasilitas lainnya.

Tak lupa fasilitas umum yang aman dan nyaman seperti Sky Bus dan kereta sebagai alat transportasi andalan. Jika ingin travelling,  kak Agung sangat menyarankan untuk melakukan open trip bersama teman-teman karena lebih terjangkau. Ada beberapa tempat wisata yang ia rekomendasikan untuk dikunjungi nih, seperti Sky Tower dan The Hobbit yang jaraknya tidak terlalu jauh. Oya, untuk kamu yang berniat ke New Zealand tidak perlu khawatir jika merasa homesick atau rindu dengan masakan Indonesia, karena sudah ada food court masakan khas Indonesia juga loh. 

Satu lagi, mungkin berdamai dengan perubahan ritme perkuliahan tidak jadi masalah, tapi bagaimana jika dengan kondisi cuaca? Seperti yang dialami kak Agung yang terkena cultural shock. Di musim dingin tanpa salju itulah kak Agung jadi sering sakit. Terlebih kondisi cuaca yang tidak menentu seperti 4 musim yang terjadi dalam satu hari. Wow!

“Bawalah jas hujan setiap kali pergi karena tidak tau kondisi cuaca akan seperti apa. Tidak usah membawa atau membeli payung, karena percuma. Pasti rusak terkena angin yang kencang.”

Agung Harahap

Ibarat pelangi yang datang setelah badai reda, kak Agung merasa senang karena bertemu banyak saudara baru di Auckland. Kondisi masyarakat yang sangat beragam baik dari kalangan pelajar dan pekerja internasional, memperluas relasi yang dimilikinya. Ia pun tergabung di beberapa organisasi, salah satunya PPIA atau Perhimpunan Pelajar Indonesia di Auckland. Berbagai event seperti PPIA orientation, welcoming party, peringatan the independence day, acara keagamaan, serta ASEAN Cultural Night juga pernah menjadi bagian dari kesibukan kak Agung di sana. Untuk yang muslim, bisa gabung ke HUMIA (Himpunan Muslim di Auckland) untuk berkumpul dengan saudara seiman juga. Ia pun menceritakan bahwa di Auckland sangat menjunjung tinggi toleransi dan saling menghargai. Jika diadakan party setelah ujian/exam, kak Agung pun menyempatkan datang meski untuk sosialisasi saja.

Menurutnya, persaingan untuk bisa diterima kuliah di New Zealand tidak sesulit untuk mendapatkan beasiswanya, LPDP. Kak Agung sangat menyarankan jika ingin lolos beasiswanya, minimal persiapan itu sekitar 3-6 bulan. Terutama kemampuan berbahasa Inggris dan IELTS yang sudah ditentukan sesuai standar. Hal tersebut yang perlu menjadi perhatian bagi siapa saja yang berniat kuliah ke luar negeri. Melakukan usaha persiapan itu harus sedini mungkin agar maksimal hasilnya. Salah satunya ikut program dari Lister untuk meningkatkan skor IELTS atau mentoring persiapan kuliah ke luar negeri. Wajib dicoba nih!

Sebagai salah satu mahasiswa luar negeri yang berhasil lulus tepat waktu, ia pun menuturkan  dua hal yang menjadi strateginya yaitu memiliki time management yang baik dan jangan terlarut dalam memuaskan keinginan pribadi seperti travelling.

“Kita harus bisa membuat prioritas. Setelah tugas-tugas selesai, baru jalan-jalannya akan terasa lebih puas”

Agung Harahap

Baca Juga:

Mentoring Beasiswa Luar Negeri

Panduan Test Toefl dan IELTS

Kursus IELTS Online Bersama Lister

Cerita Tutor Inspiratif Ala Lister : Erina Prastyani, Mendapat Beasiswa Kuliah ke Swedia