Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on google
Share on telegram

Mengapa Banyak Orang yang Ingin Melanjutkan Kuliah di Luar Negeri?

kuliah ke luar negeri Lister

Ada banyak orang baik muda maupun dewasa yang memiliki impian kuliah atau bekerja di luar negeri. Semakin canggihnya teknologi dan majunya zaman, fasilitas dan akses informasi yang mudah pun semakin membuka jalan dan mendorong mereka mencapai mimpinya. Apakah kamu salah satunya?

Memang, jika dilihat dari benefitnya, tentu ada banyak manfaat positif yang akan didapatkan. Tapi, kuliah di luar juga bukanlah hal yang mudah dan jika tidak sungguh-sungguh, bukannya mendulang kesuksesan malah pulang dengan tangan kosong. Waduh! jangan sampai deh!

Jika berdasarkan data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) hingga akhir Januari 2019 penerima beasiswa LPDP sudah sebanyak 20.255 orang. Mereka adalah orang-orang yang kuliah menggunakan beasiswa, sedangkan masih banyak yang menggunakan dana pribadi ataupun beasiswa lainnya. Lalu, apa yang menjadi penyebab banyak orang ingin memiliki pengalaman menimba ilmu hingga sejauh itu?

perjuangan kuliah di luar negeri

Belajar Budaya

Mungkin selama di Indonesia, kita sudah biasa satu kelas dengan orang-orang dari seluruh nusantara. Tapi bayangkan jika kamu mampu kuliah di Inggris misalnya, seru juga lho kalau dalam satu kelas 20 orang, mahasiswanya beragam dari 18 negara. Atau bisa saja dari 30 orang, mahasiswanya di satu kelas berasal dari 25 negara. Selain itu, adanya kesempatan berinteraksi dan mengenal budaya dari semua negara di dunia, ini yang termasuk pengalaman yang mahal dan berharga. Jika beruntung, kamu bisa masuk di universitas yang mahasiswanya berasal dari 130 negara atau lebih. Siapa yang tidak mau?

Kualitas Pendidikan

Sebenarnya salah satu faktor yang menentukan kualitas pendidikan selain faktor kualitas pembelajaran dan penilaian mata kuliahnya, yaitu mereka sangat dituntut untuk berpikir kritis dan memiliki keahlian memecahkan masalah. Sebagai mahasiswa dituntut untuk memiliki tingkat analisis dan bukti mumpuni (evidence-based) dalam setiap kasus yang diangkat (ilmu sosial). Kalau dari ilmu alam/teknik, fasilitas laboratoriumnya memang sangatt canggih. Namun, selain itu, banyak profesor dan associate profesor yang sangat ahli namun rendah hati masih mau membimbing mahasiswa, walaupun riset di jurnal internasional kelas A+ yang mereka hasilkan sudah banyak sekali.

Jaringan Internasional

Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia dan luar, memang secara kualitas ada beberapa perbedaan antara proses belajar dan mengajar. Walaupun sebetulnya para pengajar di Indonesia juga dinilai baik dari penguasaan konten dan penilaian yang obyektif, namun belum sebanyak dan semerata di luar negeri. Selain itu, kelebihan kampus dunia yang masih akan sulit dikejar kampus Indonesia adalah jaringan global. Selain pemeringkatan berdasarkan kualitas ada pemeringkatan berdasarkan reputasiAda beberapa kampus dengan reputasi atau prestise yang mendunia, bahkan ada peringkatnya baik di QS maupun THES.

Kampus yang memiliki reputasi ini misalnya Harvard, Standford, Oxbridge, MIT, Yale, Universitas Tokyo, Universitas Toronto, McGill, UCL, Universitas Peking, dan masih banyak lainnya.

Jaringan lulusan universitas ini tersebar di seluruh dunia dan terpercaya. Jangankan lulusannya, drop out nya pun masih dianggap pintar. Banyak drop out Harvard yang menciptakan perusahaan sendiri dan menjadi CEO. Jadi dengan menjadi alumni, kesempatan bekerja dan jaringan selangkah lebih baik di dunia.

Riset yang kuat

Kualitas dan fasilitas riset di luar negeri memang lebih baik karena dana riset memang besar. Otomatis riset menjadi budaya bahkan di dunia industri bukan hanya akademisi. Riset di Indonesia masih sering terkendala masalah ketiadaan dana.

Kuliah di luar negeri lebih menghargai waktu?

Mungkin alasan yang satu ini sudah sering terdengar dan akrab ditelinga mahasiswa Indonesia. Kuliah di luar negeri bagi sebagian orang dianggap lebih menyenangkan karena para pengajar seperti profesornya sangat menghargai waktu. Dalam artian, tak hanya para dosen yang dianggap sebagai dewa, namun waktu mahasiswa juga dianggap istimewa. Sehingga mereka menganggap tak ada namanya terlambat lulus karena dosen sibuk. Padahal ya tidak semua negara di luar negeri itu seperti itu, contohnya Jepang. Bahkan di Jepang, kedekatan mahasiswa dengan profesor juga berpengaruh lho.

Setelah membaca tulisan di atas, bagaimana pendapat kamu fellas?