Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on google
Share on telegram

IPK, Syarat Utama Daftar Beasiswa Luar Negeri?

IPK Syarat utama melamar beasiswa

Kegalauan tentang IPK sebagai syarat mendaftar beasiswa tentu saja sangat akrab di telingan mereka yang bermimpi ke luar negeri tapi IPK -nya pas pasan. Apakah IPK menjadi syarat utama melamar beasiswa?

Friends Graduating GIF by Syracuse University

Sadar atau tidak, syarat ini hampir tidak pernah disebutkan secara terbuka di halaman penerimaan mahasiswa baru dan kita juga akan susah menemui patokan angka IPK berapa yang jaminan mutu pasti diterima bahkan mungkin kita akan sering menemui yang IPK-nya 3,9 sampai 4 saja tetap tidak diterima. Bahkan dulu, ada mahasiswa yang lulus dengan predikat terbaik dan berpidato di wisuda universitas saja tidak lulus melamar beasiswa, apa yang salah?

Hal ini sengaja dilakukan (tidak menyebutkan syarat angka IPK) supaya bisa menjaring lebih banyak orang yang mungkin IPK-nya tidak maksimal tetapi memiliki keunggulan-keunggulan di bidang lain. Lulusan-lulusan yang sudah punya pengalaman kerja misalnya dan berhasil menduduki posisi-posisi strategis perusahaan tidak relevan lagi ditanya IPK-nya berapa, jika mereka memiliki IPK bagus ya berarti menjadi nilai plus bahwa ternyata mereka juga memiliki kecakapan di bidang akademik.

Tapi..

Tidak ada tulisan syarat IPK bukan berarti IPK sangat rendah pasti diterima. Hal yang diluruskan adalah IPK biasa saja masih bisa diterima asalkan dapat diimbangi dengan aspek-aspek lain seperti prestasi yang pernah diraih/pengalaman kerja/pengalaman di bidang riset/surat rekomendasi dari tokoh yang mumpuni, dan isi esai yang menarik. Semakin lemah kita di satu komponen penilaian, kita harus bisa mengkompensasinya di komponen penilaian yang lain. Dengan demikian, IPK sudah mentok tapi lalai mengurusi komponen-komponen lain akan tetap tidak bisa menjustifikasi kualitas kita sebagai penerima beasiswa.

Perkara Nilai Uji Kemampuan Bahasa

Ada nilai persyaratan bahasa minimal, tapi kita hanya berusaha memenuhi persyaratan bahasanya juga yang minimal-minimal saja karena kan cuma syarat? Padahal jika semakin tinggi kemampuan bahasa asing yang kita miliki, semakin kita bisa mengikuti jalannya perkuliahan dengan baik. Apa gunanya membiayai orang yang kemungkinan besar akan gagal menyelesaikan perkuliahan atau merepotkan pembimbing saja karena masalah bahasa?

Hal yang lainnya adalah membaca persyaratan dan tidak membaca informasi lain dari pemberi beasiswa. Apa visi misi beasiswa tersebut? Bagaimana karakter dan tipe orang-orang yang diterima pemberi beasiswa tersebut? Faktor-faktor apa yang penting bagi penilaian beasiswa tersebut? Ini adalah nilai minus yang akan kelihatan di aplikasi yang kita miliki. Akibatnya, kita akan menulis esai yang tidak nyambung dengan visi pemberi beasiswa dan informasi tambahan yang juga tidak nyambung.

Lanjutan dari lalai membaca latar belakang beasiswa dan memahami tujuan dari beasiswa tersebut selain terlihat di isi esai yang ditulis, akan terlihat juga di komponen prestasi dan organisasi. Banyak pelamar yang akhirnya jadi pengumpul sertifikat lomba dan organisasi tapi organisasinya tidak jelas, lombanya pun tidak jelas semua bidang dihajar dengan prestasi dan posisi yang mungkin juga sama mediokernya.

Fokuslah di 1–2 bidang yang menurut kamu paling menarik sepanjang hidup kamu dan totalitas di sana, ini akan kelihatan ketika menulis esai dan juga di berkas-berkas yang kamu masukkan semuanya akan berkaitan.

Selamat mencoba!