Simak Cerita Zaata Mengambil IELTS Private Class di Lister!

Simak Cerita Zaata Mengambil IELTS Private Class di Lister!

lister.co.id – Halo fellas! Kali ini saya akan berbagi cerita belajar IELTS secara privat di lister. Simak ya!

Nama saya Zaata Yamni, mahasiswi S1 Psikologi Universitas Indonesia. Saya sudah mengikuti kelas IELTS di Lister dan sangat puas dengan tutornya dalam mengajar.

Mengenal Lister sejak tahun 2019 saat masih semester tiga, waktu itu saya mendapatkan beasiswa kursus academic writing. Pas banget! Waktu itu saya sambil ikut lomba menulis essay bahasa Inggris sehingga bisa meminta feebback dari tutor.

Pentingnya Mempunyai Mindset Belajar

Bahasa Inggris menurut saya sangat penting, di jurusan saya psikologi, kebanyakan source of learning nya menggunakan bahasa Inggris. Sehingga, saya pun yakin belajar bahasa Inggris dari sekarang itu bukan lagi pilihan, tapi wajib!

Lebih pilih mana: susah waktu masih kuliah atau pas udah wisuda?

Saya hanya tidak ingin menyesal dan berpikir ‘kenapa tidak dari dulu belajar bahasa Inggris?”

Selain itu, saya punya rencana mengejar beasiswa master setelah lulus nanti, maka saya harus menyiapkannya sedari sekarang.

Seperti apa rasanya belajar IELTS secara private di Lister?

Kemampuan bahasa Inggris saya telah berkembang sangat pesat,  saya mendapatkan hasil tes IELTS yang pertama 6.5, dan yang kedua 7.0.

Enaknya ikut kelas ini adalah terdapat progress test dan post test, sehingga kita akan mengetahui seberapa jauh kita memahami konteks soal-soal IELTS demi mendapatkan hasil akhir yang jauh lebih maksimal. Selain itu terdapat modul untuk latihan mandiri, well, it’s worth it you know.

Enaknya mengambil kelas private dibanding reguler

Jika di kelas reguler kadang kita akan bertemu teman-teman yang level bahasa inggrisnya beda-beda dan membuat kita harus menunggu. Tapi, saat mengikuti kelas privat, semuanya menjadi lebih mudah dan cepat. Teman yang selevel dan peserta yang dibatasi membuat kelas menjadi fokus dan kondusif.

Baca juga : Rahasia Cara Fasih Berbahasa Inggris dari Rumah

Feedback yang sangat membantu dari tutor

Belajar langsung dengan ahlinya dan mendapat feedback tentu berbeda dengan kita saat belajar sendiri bukan? Nah itu pula alasan saya memilih kelas ini!

Saya sangat menyukai Lister dari segi tutor yang sangat berpengalaman dan sudah teruji, terlihat setiap pertanyaan yang saya ajukan, jawaban tutor selalu memuaskan. Misalnya saat belajar speaking dan writing, tutor selalu memberikan feedback-feedback yang tepat di bagian mana saya harus perbaiki. Saya jadi paham jika speaking saya terlalu cepat atau salah di bagian pronunciation.

Terima kasih lister!

Baca juga: Menyenangkan! Langkah Awal Belajar Menulis Jurnal Scopus Bersama Lister

Rahasia Cara Fasih Berbahasa Inggris dari Rumah

Rahasia Cara Fasih Berbahasa Inggris dari Rumah

lister.co.id – Hai semua, nama saya Jocelyn. Pelajar SMA di salah satu SMA di Surabaya.

Saat ini saya sedang menyiapkan diri untuk kuliah keluar negeri walaupun sekarang masih belum pasti apakah saya bisa keluar negeri atau tidak. Tetapi, yang penting bersiap-siap dulu agar ketika waktunya tiba, saya sudah siap untuk belajar di luar negeri.

Bepikiran positif dan optimis selalu menjadi moto saya. Itu sebabnya, saya tetap berusaha untuk meningkatkan kemampuan diri saya terlepas dari kendala yang ada. Walaupun begitu, saya sempat sangat down bahkan minder juga.

Kesenjangan kemampuan bahasa Inggris

Awalnya, saya menyadari kemampuan bahasa Inggris saya tidak bagus setelah saya masuk SMA di Surabaya. Saya yang lulusan salah satu SMP di Sidoarjo merasa sekali kesenjangan kemampuan saya dengan teman-teman saya.

Saya merasa kesulitan untuk mengikuti pelajaran dan bahkan saya tidak tahu hal apa yang saya tidak mengerti. Yang saya tahu, saya selalu ketinggalan dalam hal memahami materi dan nilai saya tidak bisa dibandingkan dengan teman-teman saya.

Kursus bahasa Inggris virtual

Merasa sedih dan frustrasi, saya bercerita ke mama saya soal persoalan yang saya alami, dan mama menyarankan saya untuk ikut kursus bahasa Inggris. Mendengar hal ini saya merasa sedikit frustasi karena saya takut saya yang paling tidak bisa berbahasa Inggris di tempat kursus.

Tetapi, mama menyarankan untuk mendaftar di Lister.co.id. Pertamanya, saya cukup skeptis, karena kursusnya hanya lewat virtual. Tetapi, saya merasa tidak ada salahnya mencoba.

Hal yang merubah hidup saya

Kalau mengingat keputusan saya waktu itu, saya ingin memutar waktu kembali dan bertepuk tangan untuk diri saya yang sudah berani melangkah dan mengambil keputusan untuk mengubah keadaan saya waktu itu.

Faktanya, skeptisme saya sama sekali tidak terbukti dan saya malah bisa mengikuti pelajaran di kelas, bahkan menjadi salah satu murid yang unggul di pelajaran bahasa Inggris. Kemampuan berbahasa inggris saya berkembang dengan sangat cepat.

Ternyata, kursus dan belajar bahasa Inggris itu tidak penting apakah secara langsung dan tatap muka maupun tatap layar. Ilmu tetap bisa didapat. Malah sekarang bersyukur banget, karena dengan kondisi yang seperti sekarang, dimana saya tidak bisa keluar sama sekali karena pandemi, saya masih tetap bisa belajar dan meningkatkan kemampuan saya.

Saya jadi selangkah lebih maju karena sudah terbiasa dengan sistem tutor yang virtual. Bayangkan, saya yang awalnya susah mengikuti pelajaran sekarang sedang menyiapkan diri dengan mengikuti IELTS preparation class.

Berani bermimpi lebih besar

Sembari belajar di sekolah, saya juga mulai merencanakan untuk studi kuliah keluar negeri. Saya yang dulu mungkin tidak akan berani untuk bercita-cita seperti ini. Tetapi, dengan mengambil kursus di Lister, saya terekspos dengan berbagai kesempatan dan saya merasa kenapa tidak?

Sekarang, saya sedang kursus persiapan IELTS untuk memenuhi salah satu syarat kuliah keluar negeri. Semoga pandemi cepat berakhir agar saya bisa mewujudkan cita-cita saya ini segera.

Pesan saya, berani bermimpi itu boleh banget, tapi harus selalu direalisasikan ya! Terima kasih Lister!

Menyenangkan! Langkah Awal Belajar Menulis Jurnal Scopus Bersama Lister

Menyenangkan! Langkah Awal Belajar Menulis Jurnal Scopus Bersama Lister

lister.co.id – Hi fellas! Kali ini saya akan menceritakan kisah saya bersama Lister, langkah awal saya untuk mengenal scopus dan keilmiahan lebih jauh.

Nama saya Selly Afrida Oltar, seorang mahasiswi pascasarjana jurusan pendidikan sejarah di sebuah perguruan tinggi negeri Jakarta.

Saya mengenal Lister dari iklan yang ada di facebook. Kebetulan waktu itu, saya memang sedang mencari lembaga kursus untuk mempelajari kepenulisan jurnal ilmiah, tujuannya selain untuk keperluan tugas akademik, juga untuk mengejar keinginan saya menjadi seorang peneliti.

Meski masih kuliah dan belum memiliki ID Scopus, banyak jalan menuju roma, keinginan saya untuk belajar kepenulisan jurnal sangat kuat.

Hingga akhirnya saya bertemu Lister! Awalnya saya googling dan cek websitenya dulu, lalu tertarik dan mengambil kelas bimbingan jurnal scopus bersama tutor lulusan Australia! Kak Herdi.

Gak rugilah belajar di Lister, puji syukur saya mendapatkan pengajar yang sangat helpful, berpengalaman, sangat komunikatif, dan fast respon. Saya pun berencana untuk merekomendasikan kelas ini pada kolega saya jika mereka sedang mencari lembaga kursus!

Oya, harga yang ditawarkan pun sangat bersahabat apalagi dengan kualitas yang gak kalah ok. Selain itu, tak usah khawatir ketinggalan pelajaran, karena Lister sudah menyiapkan recording class untuk mereka yang kebetulan tidak bisa ikut.

Lister memang ramah dan solusi bagi siapa saja!

Bayangkan, sebelumnya saya bahkan tidak pernah menulis jurnal dan belum tahu apa-apa tentang ini. Tapi, setelah mengikuti kelas, banyak sekali ilmu yang saya dapatkan terutama seluk beluk scopus, jurnal ilmiah, dan lain sebagainya.

Saya sangat menyukai Lister dan sudah berencana untuk mengikuti kelas-kelas yang lain di waktu mendatang!

Tak lupa, ada sesi praktik yang gak kalah penting, pesertanya yang terbatas pun membuat kelas menjadi kondusif dan fokus.

Sekarang, saya tinggal terus berlatih menulis saja dan mempraktikkan ilmu yang saya dapatkan di Lister. Saya yakin, ini akan sangat berguna untuk masa depan saya nanti. Terima kasih Lister!

Andri Wardana, Lika-Liku Menimba Ilmu di Benua Hijau

Andri Wardana, Lika-Liku Menimba Ilmu di Benua Hijau

Lister sebagai platform belajar bahasa asing online di Indonesia kali ini kembali mewawancari seorang lulusan Master of Education in TESOL dari University of New South Wales yang juga sebagai tutor di Lister. Mau tau kisahnya belajar di benua hijau? Simak artikel ini sampai habis yuk.

Beliau adalah Andri Wardana, pria kelahiran Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara ini menceritakan bagaimana awal mula memiliki impian kuliah ke luar negeri. Semua berawal ketika masih duduk di bangku S-1 dan kemudian terinspirasi oleh gaya mengajar sang dosen yang sangat seru. Menjadi pengajar yang profesional dan disukai para mahasiswa, itulah awal mula yang mendorong langkah kakinya sampai ke Australia, lalu kuliah di University of New South Wales dengan beasiswa LPDP. Kecintaannya pada dunia mengajar mengantarkan dia pada jurusan Master of Education in TESOL untuk lebih mendalami ilmu pedagogy dan language learning.

Australia sebagai negara dengan sistem pendidikan yang unggul dan beragam fasilitas yang aman dan nyaman menjadi pertimbangan utama. Sedangkan, peringkat universitas yang bagus dan program di jurusan TESOL yang diampu oleh ahli/profesional membuat University of New South Wales menjadi pilihan tempat belajarnya.

Lika-Liku Kuliah di Australia

The University of New South Wales, sebagai kampus yang sangat supportif terhadap keperluan mahasiswa internasional, termasuk keberadaan student learning centre yang sangat membantu dalam hal akademik, kepenulisan, dan psikologi.

Berbagai fasilitas yang ditawarkan seperti banyaknya club-club pengembangan diri. Bahkan, kak Andri pernah ditunjuk sebagai perwakilan mahasiswa internasional dalam rangka menghadiri teaching and learning committee di School of Education, UNSW. Acara tersebut adalah pertemuan bulanan untuk menjaring aspirasi/saran dari mahasiswa internasional terhadap proses pembelajaran di jurusan.

Di luar kampus, kak Andri turut berpartisipasi di PPI Australia, yaitu komunitas mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Australia. Aktif dalam berbagai kepanitiaan seperti Keluarga Pelajar Islam Australia (KPII) yang pernah mengadakan acara welcoming dan farewell, mengajar di TPA, kajian rutin mingguan dan bulanan dan lain-lain. Selain itu, pernah menjadi bagian dari acara Indonesian Diaspora Night 2018 di Australia, pemilihan pengurus Centre for Islamic Dakwah and Education (CIDE NSW), serta pemilihan presiden 2019.

Di sana, kak Andri membiasakan jalan kaki atau bersepeda karena jarak tempuhnya sekitar 800-100 km ke kampus. Dan untuk biaya hidup ia menuturkan paling tidak 1100 dollar per bulan, termasuk akomodasi yang sharing room serta transportasi dan lain-lain.

Pesan untuk mereka

Tak lupa, kak Andri pun berpesan bagi siapa saja yang tertarik kuliah ke luar negeri, hal yang perlu dipersiapkan adalah kemampuan menulis academic writing. Sangat disarankan untuk membiasakan terhadap bentuk-bentuk scientific article, kaidah kepenulisan, dan referensi.Nah, jika teman-teman masih kesulitan belajar academic writing, segera saja gabung di Lister. Sudah banyak testimoni yang berhasil, yuk mulai upgrade your writing skill.

Baca : Academic Writing – Mengenal Cara Menulis Artikel Jurnal Ilmiah Berbahasa Inggris.

Yang kedua adalah memupuk mental yang kuat dan rasa nasionalisme yang tinggi.

“Jangan sampai ketika di sana, kita terbiasa membandingkan Australia dengan negara sendiri, menurut saya itu kurang baik dan tidak akan merubah apapun. So, don’t judge, just observe and learn!”

Andri Wardana

“Kita kesana kan mau belajar, pelajari apa yg perlu dipelajari dan tinggalkan yang tidak perlu. Miliki mental belajar bukan mental menghakimi. Buatlah hal-hal yang lebih bermanfaat karena waktunya hanya sebentar.”

Andri Wardana

Terbiasa dengan perubahan

Kak Andri bercerita ketika kuliah di Australia, ia tidak mengalami culture shock terhadap perubahan gaya hidup dan budaya di sana loh. Justru perubahan itu ia alami setelah pulang dari luar negeri. Wawasan yang semakin bertambah membuat kak Andri menjadi pribadi yang tidak mudah menjudge perkataan orang lain. Selain itu, ia sangat concern pada pentingnya adab sebelum ilmu. Baginya, bagaimana cara kita memperlakukan orang tersebut lebih berharga daripada ilmu itu sendiri.

“Mungkin untuk pejuang beasiswa di luar sana, ketika kita punya mimpi percayalah setiap usaha pasti akan berbuah hasil. Semakin besar usaha dan pengorbanan, semakin besar pula hasilnya. Insya Allah!”

Andri Wardana

Begitulah, sekelumit kisah berkuliah di benua hijau dari kak Andri Wardana. Harapannya, semakin banyak generasi muda yang juga mengikuti jejaknya ya!

Baca juga artikel Lister lainnya:

Tertarik Kuliah ke New Zealand? Simak Dulu Cerita Agung Harahap Kuliah di The University of Auckland

Tertarik Kuliah ke New Zealand? Simak Dulu Cerita Agung Harahap Kuliah di The University of Auckland

Dengan tagline #learnwiththeexperts, Lister sangat cocok dijadikan teman belajar siapa saja yang terkendala bahasa asing nih, di sana banyak tutor profesional yang siap membantu mewujudkan impian kamu, salah satunya seperti kak Agung: kuliah ke New Zealand dengan beasiswa. Wow!

Siapa yang tidak tahu negara dengan julukan negeri Kiwi ini? Dikenal sebagai rumah bagi banyak universitas unggul yang sukses mendapatkan pengakuan global. Tercatat 8 universitas yang termasuk dalam daftar 500 universitas terbaik dunia berdasarkan Pemeringkatan Universitas Dunia QS tahun 2020. Selain dari kualitas pendidikan yang unggul, peluang wisata ke seantero negeri tentu menjadi daya tarik tersendiri. 

Begitulah kak Agung, sapaan akrab pria kelahiran Jambi ini akhirnya memutuskan melanjutkan studi ke New Zealand di jurusan Applied Linguistics di The University of Auckland. Negara yang damai tapi sangat tepat waktu itu menjadi pilihan destinasi studi lanjutannya. Karena memiliki lingkungan yang nyaman dan aman serta penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari yang memudahkan untuk dapat berinteraksi dengan warga asli.

Kak Agung menuturkan bahwa New Zealand adalah negara yang tepat untuk dipilih para pelajar internasional yang menginginkan ketenangan ketika menuntut ilmu di luar negeri. Bagaimana tidak, dengan populasi sekitar 5 juta penduduk membuat New Zealand masih bersih, damai, dan aman. Hal tersebut tentu menguntungkan bagi pelajar bukan?

Melalui beasiswa LPDP, kak Agung bisa kuliah ke New Zealand. Ia pun merasa sangat terbantu, namun tantangannya berada di finance management. Karena biaya akomodasi yang sedikit lebih mahal, terlebih kota Auckland dikenal sebagai pusat bisnis. Namun, kak Agung mencoba mensiasatinya dengan mengolah masakan sendiri.

WA Agung

Pada masa perkuliahan sekitar 1-2 bulan pertama, kak Agung sempat merasa insecure apakah dirinya bisa survive dengan ritme dan metode perkuliahan yang sangat berbeda dengan Indonesia itu. Namun, setelah beradaptasi, kak Agung malah sangat menikmati momen berkuliah di sana terlebih ia masuk ke kelas internasional. Ia menceritakan bahwa kegiatan perkuliahan kebanyakan dilakukan secara mandiri. Jadi, mahasiswa hanya melakukan pembelajaran tatap muka 2 jam selama seminggu di kelas. Sisanya dilakukan secara mandiri dengan ekspektasi belajar 7 jam selama seminggu. Eits, maksud dari belajar mandiri itu tidak mesti belajar sendiri tapi bisa berkelompok juga.

Selama kuliah di sana, kak Agung merasakan banyak perubahan. Salah satunya, ia menjadi lebih mandiri. Karena terbiasa mengurus sendiri mulai dari administrasi ataupun yang lainnya. Namun, ia sangat bersyukur karena fasilitas kampus yang memadai sangat membantunya, seperti akses internet yang mudah, buku atau jurnal yang tersedia luas, perpustakaan yang lengkap serta fasilitas lainnya.

Tak lupa fasilitas umum yang aman dan nyaman seperti Sky Bus dan kereta sebagai alat transportasi andalan. Jika ingin travelling,  kak Agung sangat menyarankan untuk melakukan open trip bersama teman-teman karena lebih terjangkau. Ada beberapa tempat wisata yang ia rekomendasikan untuk dikunjungi nih, seperti Sky Tower dan The Hobbit yang jaraknya tidak terlalu jauh. Oya, untuk kamu yang berniat ke New Zealand tidak perlu khawatir jika merasa homesick atau rindu dengan masakan Indonesia, karena sudah ada food court masakan khas Indonesia juga loh. 

Satu lagi, mungkin berdamai dengan perubahan ritme perkuliahan tidak jadi masalah, tapi bagaimana jika dengan kondisi cuaca? Seperti yang dialami kak Agung yang terkena cultural shock. Di musim dingin tanpa salju itulah kak Agung jadi sering sakit. Terlebih kondisi cuaca yang tidak menentu seperti 4 musim yang terjadi dalam satu hari. Wow!

“Bawalah jas hujan setiap kali pergi karena tidak tau kondisi cuaca akan seperti apa. Tidak usah membawa atau membeli payung, karena percuma. Pasti rusak terkena angin yang kencang.”

Agung Harahap

Ibarat pelangi yang datang setelah badai reda, kak Agung merasa senang karena bertemu banyak saudara baru di Auckland. Kondisi masyarakat yang sangat beragam baik dari kalangan pelajar dan pekerja internasional, memperluas relasi yang dimilikinya. Ia pun tergabung di beberapa organisasi, salah satunya PPIA atau Perhimpunan Pelajar Indonesia di Auckland. Berbagai event seperti PPIA orientation, welcoming party, peringatan the independence day, acara keagamaan, serta ASEAN Cultural Night juga pernah menjadi bagian dari kesibukan kak Agung di sana. Untuk yang muslim, bisa gabung ke HUMIA (Himpunan Muslim di Auckland) untuk berkumpul dengan saudara seiman juga. Ia pun menceritakan bahwa di Auckland sangat menjunjung tinggi toleransi dan saling menghargai. Jika diadakan party setelah ujian/exam, kak Agung pun menyempatkan datang meski untuk sosialisasi saja.

Menurutnya, persaingan untuk bisa diterima kuliah di New Zealand tidak sesulit untuk mendapatkan beasiswanya, LPDP. Kak Agung sangat menyarankan jika ingin lolos beasiswanya, minimal persiapan itu sekitar 3-6 bulan. Terutama kemampuan berbahasa Inggris dan IELTS yang sudah ditentukan sesuai standar. Hal tersebut yang perlu menjadi perhatian bagi siapa saja yang berniat kuliah ke luar negeri. Melakukan usaha persiapan itu harus sedini mungkin agar maksimal hasilnya. Salah satunya ikut program dari Lister untuk meningkatkan skor IELTS atau mentoring persiapan kuliah ke luar negeri. Wajib dicoba nih!

Sebagai salah satu mahasiswa luar negeri yang berhasil lulus tepat waktu, ia pun menuturkan  dua hal yang menjadi strateginya yaitu memiliki time management yang baik dan jangan terlarut dalam memuaskan keinginan pribadi seperti travelling.

“Kita harus bisa membuat prioritas. Setelah tugas-tugas selesai, baru jalan-jalannya akan terasa lebih puas”

Agung Harahap

Baca Juga:

Mentoring Beasiswa Luar Negeri

Panduan Test Toefl dan IELTS

Kursus IELTS Online Bersama Lister

Cerita Tutor Inspiratif Ala Lister : Erina Prastyani, Mendapat Beasiswa Kuliah ke Swedia